Culver City menjadi magnet baru bagi studio film berbasis kecerdasan buatan (AI), ketika perusahaan-perusahaan di kawasan Los Angeles itu mulai merekrut kreator untuk produksi film dan video berbantuan AI. Perkembangan ini terlihat dalam bursa kerja di Culver Steps pada Rabu, bagian dari LA Tech Week.
Acara yang biasanya menjadi ruang untuk kegiatan komunitas dan pemutaran film itu berubah menjadi tempat perusahaan memamerkan video AI yang tampak nyata. Mereka menawarkan peluang kerja kepada talenta baru dan pekerja kreatif yang kehilangan pekerjaan, sembari mendorong cara baru membuat film.
Laporan Los Angeles Times menyebut sejumlah studio AI kini berkembang di sekitar Culver City, termasuk Promise, TrueShort, Native Foreign, dan PhantomX. Kawasan itu juga sudah menjadi rumah bagi perusahaan hiburan dan teknologi seperti Amazon MGM Studios, TikTok, Apple, serta Sony Pictures Entertainment.
Mengapa studio AI memilih Culver City
Perusahaan-perusahaan itu tertarik pada kedekatan dengan studio Hollywood yang ingin mereka saingi. Ketersediaan ruang yang lebih terjangkau juga menjadi pertimbangan, seiring penurunan umum bisnis hiburan di Los Angeles.
“Ini tempat berkembang biak yang bagus untuk cara baru membuat film ini,” kata Dave Clark, salah satu pendiri studio produksi film AI Promise, tentang Culver City. Ia juga mengajak para pembuat film independen untuk memanfaatkan teknologi itu dan merebut kembali kendali atas proses kreatif.
Luma AI, perusahaan rintisan asal Palo Alto yang mengembangkan perangkat lunak video generatif, membuka fasilitas di Culver City tahun lalu. Dream Lab milik perusahaan itu menempati ruang seluas 7.000 kaki persegi dan mempekerjakan 13 orang. Dalam pernyataan tertulis, Chief Operating Officer Luma AI Caroline Ingeborn menyebut Culver City sebagai masa depan AI dan pembuatan film.
Promise juga memindahkan operasinya dari Venice ke dekat Culver City pada Juni. Perusahaan yang didukung Google itu mengusung produksi hibrida: aktor manusia bekerja bersama spesialis AI. Teknologi AI digunakan untuk membuat latar, efek visual, dan manusia sintetis, sementara banyak adegan tetap direkam di panggung suara di Los Angeles dengan aktor.
Produksi lebih murah, tetapi pekerjaan jadi taruhan
Janji utama AI bagi para pendukungnya adalah menekan biaya produksi dan membuka ruang bagi film yang sebelumnya sulit dibuat. Namun, penggunaan teknologi ini memicu kekhawatiran di kalangan pekerja Hollywood, serikat pekerja, dan masyarakat. Mereka cemas AI mengambil alih pekerjaan kreator manusia.
Dampaknya terasa langsung pada cara studio menyusun tim dan memproduksi tayangan. Jika proses pembuatan bisa lebih murah atau cepat, perusahaan dapat mencoba lebih banyak proyek. Namun, perubahan itu juga menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang mendapat pekerjaan, bagaimana karya manusia dilindungi, dan apakah penggunaan wajah atau penampilan sintetis akan menggantikan aktor.
TrueShort pindah ke Culver City bulan lalu dan menempati sebagian besar ruang kantor seluas 5.000 kaki persegi dekat studio Amazon. Studio AI itu telah mengumpulkan pendanaan 17 juta dollar AS dan memiliki sekitar 45 karyawan; sekitar 75 persen di antaranya bekerja di bidang kreatif, seperti penyutradaraan, penyuntingan, desain suara, dan komposisi musik.
Aplikasi streaming TrueShort menayangkan serial audio dan video kriminal nyata berdurasi pendek yang sepenuhnya dibuat dengan AI. Menurut perusahaan, satu episode berdurasi 10 menit rata-rata membutuhkan biaya sekitar 10.000 dollar AS dan waktu sekitar 10 hari sejak ide hingga dirilis.
“Netflix berikutnya atau Disney berikutnya akan muncul dari AI kali ini,” kata Nate Tepper, salah satu pendiri TrueShort. Ia menilai perusahaan rintisan dapat bergerak lebih cepat daripada pemain besar yang khawatir menghadapi reaksi negatif.
Studio mencari cara baru, Hollywood memasang batas
Native Foreign, studio kreatif di Culver City, membuat iklan berbantuan AI untuk merek yang lebih terbuka terhadap teknologi itu dibanding industri film Hollywood.
Perusahaan tersebut pernah menggarap iklan untuk Virgin dan Toys R Us, serta membuat film pendek animasi AI berjudul “Critterz” dengan perangkat lunak OpenAI. Rencana film panjang berdasarkan karya itu batal setelah OpenAI mundur dan membatalkan model AI pembuat videonya.
Salah satu pendiri Native Foreign, Nik Kleverov, mengatakan alat AI membantu studio kecil menghasilkan karya dengan kemampuan yang sebelumnya lebih mudah dijangkau perusahaan besar. Namun, penerimaan teknologi di Hollywood tetap berjalan bersamaan dengan upaya membatasi risikonya.
Serikat aktor SAG-AFTRA telah memperoleh perlindungan khusus terhadap penggunaan pemeran yang sepenuhnya sintetis dalam kontrak serikat yang ditandatangani tahun ini. Aturan itu menunjukkan bahwa perdebatan bukan hanya soal kemampuan teknologi, melainkan juga persetujuan dan perlindungan kerja.
Alex Cancado, yang pernah bekerja di efek visual dan terlibat dalam lebih dari 80 film, kini bekerja di divisi AI Studios Amazon MGM Studios. Ia mengingatkan bahwa teknologi sebelumnya juga pernah menghadapi penolakan di industri film. “Dulu, membuat sutradara dan produser menerima grafika komputer juga merupakan tantangan,” katanya.
Bagi industri kreatif, perubahan ini berlangsung di antara peluang produksi yang lebih fleksibel dan tuntutan untuk menjaga peran manusia. Di Culver City, studio AI terus merekrut dan memperluas ruang kerja; TrueShort, misalnya, menyebut sekitar 75 persen dari sekitar 45 karyawannya adalah pekerja kreatif.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.