Program PRAISE Microsoft-CMU memungkinkan insinyur perangkat lunak muda bekerja penuh waktu di Microsoft sambil mengikuti kuliah daring dari Carnegie Mellon University. Program yang diluncurkan Microsoft dan CMU ini menggabungkan pembelajaran kecerdasan buatan dengan bimbingan langsung dari insinyur senior.
Jace Watson, salah satu peserta, menjalani pekerjaan sebagai insinyur perangkat lunak Microsoft di Seattle sembari mengikuti kelas dari CMU. Ia mengikuti Preceptorship for AI-accelerated Software Engineering (PRAISE), yang dirancang untuk membantu karyawan awal karier menghadapi perubahan dalam pengembangan perangkat lunak akibat AI.
Watson mengatakan alat AI belum menjadi bagian besar dari pendidikannya saat kuliah sarjana, meski teknologi itu semakin mudah diakses. Setelah mulai bekerja di Microsoft dan memakai alat AI dalam kegiatan sehari-hari, ia mencari pendidikan tambahan agar dapat memanfaatkannya dengan lebih baik.
Pengalaman Watson menunjukkan celah yang ingin dijawab program ini: pekerja muda harus menggunakan perangkat AI dalam pekerjaan, sementara pendidikan formal mereka belum tentu memberi kesempatan cukup untuk mempelajari penerapannya. PRAISE menghubungkan materi akademik dengan praktik di perusahaan, bukan meminta peserta memilih salah satunya.
Program PRAISE Microsoft-CMU menggabungkan kelas dan bimbingan
Peserta PRAISE adalah karyawan Microsoft pada tahap awal karier yang mengikuti mata kuliah daring di Kenneth C. Griffin School of Computer Science milik CMU. Di perusahaan, mereka mendapat pendampingan dari insinyur senior yang disebut preceptor. Peserta, atau preceptee, menerapkan keterampilan yang dipelajari ke pekerjaan sehari-hari.
Dekan SCS Martial Hebert mengatakan kemitraan itu membawa pendidikan ilmu komputer CMU kepada orang-orang yang tidak berada dalam jalur pendidikan tradisional, tetapi membutuhkan panduan untuk menghadapi perubahan bidang ini. Ia juga menyebut kesiapan tenaga kerja sebagai tanggung jawab bersama pihak akademik dan industri.
Di semester ini, peserta program sertifikat PRAISE mengambil mata kuliah Machine Learning in Production dan Preceptorship in AI-Augmented Software Engineering I. Materinya mengajarkan cara memasukkan pembelajaran mesin ke perangkat lunak yang dikembangkan serta menggunakan alat AI selama proses pembuatan perangkat lunak.
Program ini tidak menempatkan AI sebagai pengganti penilaian manusia. CTO Microsoft Azure Mark Russinovich mengatakan, “AI changes the work, but it doesn’t eliminate the need for junior engineers or for human judgment and accountability.” Pernyataan itu menekankan bahwa kemampuan teknis menggunakan AI tetap perlu berjalan bersama pertimbangan dan tanggung jawab manusia.
AI mengubah tugas, bukan menghapus peran insinyur muda
Perubahan itu penting karena pekerjaan awal seorang insinyur perangkat lunak selama ini dapat membantu membangun keahlian secara bertahap. Michael Hilton, profesor pengajar di Software and Societal Systems Department CMU, mengatakan penggunaan AI mengubah pola tersebut.
Menurutnya, kolaborasi akademisi dan praktisi dapat menghasilkan pendekatan yang bertumpu pada riset sekaligus sesuai dengan kenyataan kerja pengembangan perangkat lunak.
Bagi perusahaan, perpaduan kelas dan pendampingan memberi jalur bagi karyawan untuk mempelajari AI sambil tetap mengerjakan pekerjaan nyata. Bagi peserta, pembelajaran dapat langsung diuji dalam konteks tugas mereka, dengan insinyur senior membantu memberi arahan. Dampaknya bukan sekadar mengenalkan alat baru, melainkan membangun kemampuan untuk memilih kapan dan bagaimana AI digunakan.
Microsoft menyatakan kurikulum formal itu melengkapi bimbingan preceptor agar peserta dapat membangun dan mengirimkan perangkat lunak dengan percaya diri. Perusahaan juga menekankan bahwa pertimbangan tentang kapan menggunakan AI merupakan bagian dari pendidikan yang terus berlangsung.
Pada semester musim semi, peserta dijadwalkan mengambil DevOps: Engineering for Secure Development and Deployment serta bagian kedua rangkaian Preceptorship in AI-Augmented Software Engineering. Mata kuliah dalam program ini dapat diterapkan untuk meraih gelar magister rekayasa perangkat lunak di SCS, sehingga peserta memiliki jalur untuk melanjutkan studi.
CMU berharap dapat memperluas program dan menerima lebih banyak peserta sertifikat, serta membuka kemungkinan bekerja sama dengan mitra industri lain. Jonathan Aldrich, profesor S3D yang memimpin program sertifikat PRAISE, menilai pendekatan ini berpotensi menjadi pola untuk meningkatkan keterampilan pengembang baru di tengah perubahan AI dalam pengembangan perangkat lunak.
Langkah berikutnya sudah masuk dalam rancangan pembelajaran: peserta akan melanjutkan ke mata kuliah DevOps dan tahap kedua preceptorship pada semester musim semi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.