Minggu, 18 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Said Abdullah Pertanyakan Sikap MSCI terhadap Pasar Saham RI

Pasar saham RI melemah setelah pengumuman MSCI dan IHSG anjlok
Pergerakan pasar saham Indonesia menjadi perhatian setelah MSCI menilai status klasifikasi BEI. (Ilustrasi: AI)

Said mendorong KSEI dan OJK menyempurnakan granularitas data investor serta memperluas akses informasi kepemilikan saham. Menurutnya, tuntutan tersebut wajar karena informasi yang rinci membantu investor menilai risiko dan mengambil keputusan dengan lebih matang.

Inilah dampak langsung perdebatan klasifikasi bagi pasar: pembenahan transparansi dan pengawasan ikut menentukan informasi yang tersedia bagi investor.

Data kepemilikan yang lebih terbuka dapat membantu pelaku pasar memahami struktur kepemilikan saham, sementara penegakan aturan berhubungan dengan kepercayaan terhadap perdagangan. Said mengakui perbaikan sudah berjalan bertahap, tetapi menilai upaya otoritas seolah belum berarti bagi MSCI.

“Saya memahami sepenuhnya bahwa MSCI sebagai panduan investor tentu saja merasa berkepentingan memberikan informasi yang utuh agar para investor dapat mengambil keputusan investasi dengan matang dan akurat, disertai analisis risiko yang memadai,” kata Said.

Ia membandingkan sikap MSCI dengan FTSE Russell. Menurut Said, Indonesia tetap berada dalam kelompok Secondary Emerging Market bersama 13 negara lain, termasuk China, India, Filipina, Vietnam, dan Arab Saudi. Ia mengatakan keputusan FTSE Russell mempertimbangkan perbaikan klasifikasi investor, penambahan free float, serta pengawasan pasar yang diperketat.

Perbandingan itu menjadi dasar pertanyaan Said mengenai perbedaan penilaian kedua lembaga. Ia menyatakan tidak menolak koreksi MSCI, tetapi meminta komunikasi langsung dengan otoritas apabila ada aspek yang belum jelas. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan Said, bukan penjelasan resmi dari MSCI atau FTSE Russell.

Investor asing membeli saham Rp 9,18 triliun

Said juga menyoroti transaksi investor asing pada hari pengumuman MSCI. Ketika IHSG jatuh pada 16 Oktober 2026, investor asing disebut membeli saham di BEI hingga Rp 9,18 triliun.

Ia menyebut kondisi itu ironis: harga saham turun setelah pengumuman, tetapi sebagian investor asing memanfaatkan penurunan untuk membeli saham. Said tidak menuduh MSCI bersekongkol menjatuhkan IHSG, namun mengatakan kebijakan itu, sadar atau tidak, menguntungkan hedge fund.

“Tentu saja saya tidak menuduh lembaga sekaliber MSCI bersindikasi menjatuhkan harga IHSG dan memberi jalan bagi investor asing untuk mengambil keuntungan (profit taking). Namun, fakta yang sulit kita mungkiri, sadar atau tidak, kebijakan MSCI menguntungkan hedge fund,” ujarnya.

Said menegaskan dukungannya terhadap perbaikan pasar modal Indonesia, sembari mengingatkan agar proses evaluasi tidak merusak pasar. Ia mengibaratkan pembenahan sebagai mencari jarum di sawah yang padinya menguning: jarum perlu ditemukan, tetapi tanaman jangan sampai rusak dalam prosesnya.

Fakta transaksi yang ia sampaikan tetap menjadi angka penting dalam perdebatan itu: investor asing membeli saham hingga Rp 9,18 triliun pada 16 Oktober 2026, ketika IHSG anjlok dan status pasar Indonesia menjadi sorotan.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair