Ukuran penelitian juga terbatas: hanya 25 peserta. Karena itu, hasilnya belum cukup untuk menyimpulkan bahwa berbagi tempat tidur menyebabkan gangguan tidur, atau bahwa gerakan pemilik selalu membangunkan anjing. Penulis menyebut studi yang lebih besar masih diperlukan untuk menguji temuan tersebut.
Konteks pengumpulan data ikut menjadi perhatian. Penelitian berlangsung saat pembatasan terkait pandemi COVID-19, periode yang menurut para penulis dapat meningkatkan stres dan membuat tidur manusia lebih terganggu. Aktivitas manusia yang lebih sering pada malam hari kemudian berpotensi berkaitan dengan gerakan anjing.
Penelitian sebelumnya tentang tidur bersama anjing menghasilkan temuan beragam. Sebagian studi mengaitkannya dengan gangguan tidur, sementara studi lain tidak menemukan dampak berarti. Ada pula penelitian yang mencatat orang merasa kualitas tidurnya lebih baik ketika anjing berada di dekat mereka, meski gangguan sepanjang malam mungkin bertambah.
Rasa aman dan kualitas tidur tidak selalu sejalan
Dalam penelitian ini, kurang dari separuh pemilik merasa anjing mengganggu tidur mereka. Sebagian besar peserta menyatakan tidur mereka tidak terganggu oleh gonggongan anjing, yakni 88 persen, maupun suara akibat gerakan anjing, sebesar 84 persen.
Peserta yang memiliki lebih dari satu anjing melaporkan kualitas tidur yang lebih buruk secara umum. Namun, tim peneliti menilai temuan itu lemah secara statistik, sehingga belum bisa diperlakukan sebagai bukti kuat bahwa jumlah anjing menyebabkan tidur memburuk.
Di sisi lain, sekitar 72 persen peserta mengatakan merasa lebih aman ketika tidur bersama anjing. Bagi rumah tangga yang menjadikan anjing bagian dari rutinitas malam, rasa aman dan kedekatan emosional dapat menjadi bagian dari pengalaman tidur yang tidak tertangkap hanya lewat hitungan gerakan.
Ming Fei Li, penulis utama bersama Nagendran, mengaitkan rasa aman itu dengan sejarah hubungan manusia dan anjing. “Ada ikatan dekat yang sangat istimewa di sini. Kami beruntung bisa mempelajarinya,” kata Li.
Penelitian tersebut menggambarkan hubungan malam yang saling memengaruhi, bukan jawaban final tentang siapa yang lebih sering membangunkan siapa. Para penulis juga menekankan bahwa manusia dalam penelitian mungkin mengalami tidur yang lebih terganggu selama masa pembatasan pandemi, sehingga hasilnya perlu dibaca dalam konteks itu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.