JAKARTA — IHSG sempat turun ke level 4.996,6 pada Senin (19/10/2026), dan Danantara melihat pelemahan itu sebagai peluang membeli saham perusahaan milik negara. CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan lembaganya tengah menyiapkan investasi pada sejumlah saham setelah menilai fundamental perusahaan.
Rosan menyampaikan pandangan itu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. Danantara belum menyebut emiten yang akan dibeli maupun nilai modal yang disiapkan, tetapi Rosan mengatakan analisis investasi akan bertumpu pada kondisi fundamental.
IHSG di bawah 5.000 jadi perhatian Danantara
Menurut Rosan, penurunan indeks membuat valuasi saham perusahaan di bursa terlihat lebih murah. Ia menilai sejumlah perusahaan memiliki kondisi usaha yang solid, sehingga harga yang melemah membuka kesempatan untuk berinvestasi dalam jangka panjang.
“Kita kan melihat kembali valuasi perusahaan-perusahaan kita sangat baik, ya, sangat-sangat solid dan juga valuasinya juga boleh dibilang kan sekarang menjadi sangat murah,” ujar Rosan, yang juga menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Ia menyebut Danantara mempertimbangkan investasi baik di pasar modal maupun pada perusahaan BUMN yang dimiliki. Keputusan pembelian, kata dia, akan mengikuti penilaian atas fundamental perusahaan, bukan semata-mata pergerakan harga saham.
“Kita justru melihat ini adalah opportunity untuk kita investasi jangka panjang gitu,” kata Rosan. Ia tidak merinci kapan transaksi pertama akan dilakukan atau saham mana yang masuk dalam kajian.
Rosan soroti valuasi saham perbankan
Sebagai gambaran, Rosan menyinggung valuasi saham perbankan berdasarkan price to book value yang rata-rata berada di satu. Ia juga menyebut bank-bank nasional dalam kondisi sehat dan mengatakan pembagian dividen dapat memberi imbal hasil kepada investor.
Rosan mencontohkan dividen Bank Mandiri yang disebutnya kurang lebih 16% dan BRI 13%. Angka tersebut merupakan contoh yang disampaikan Rosan; ia tidak menjabarkan periode pembagian dividen maupun perhitungan rinci yang mendasarinya.
“Jadi ibaratnya beli tanpa melihat kenaikan harga saham aja yield-nya itu kurang lebih, untuk Mandiri misalnya 16% karena dari pembagian dividennya,” jelasnya. Ucapannya menekankan potensi pendapatan dividen, namun bukan jaminan bahwa imbal hasil serupa akan terus diperoleh investor.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.