Rabu, 21 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Agen AI Tencent Coba Tembus Amap 2.600 Kali dalam 11 Hari

Agen AI Tencent mencoba mengakses layanan peta Amap Alibaba
Ilustrasi agen AI yang mencoba mengambil data dari layanan peta dengan perlindungan anti-bot. (Ilustrasi: AI)

Mayoritas permintaan tak menghasilkan data

Catatan Swarmchasers menunjukkan banyak usaha itu tidak berhasil. Dari 2.372 laporan yang dihimpun hingga 4 Oktober, hampir separuh berakhir di halaman Amap kosong atau permintaan masuk akun. Hampir seperempat lainnya hanya menampilkan tab kosong.

Para peneliti tidak menemukan bukti bahwa trik token berhasil atau server praproduksi merespons permintaan. Angka pintu masuk yang berhasil diperoleh sebagian besar datang melalui pembaca halaman Jina, yang dapat menyajikan salinan tersimpan hingga 30 hari. Artinya, data yang diterima agen belum tentu menggambarkan keadaan terkini.

Risiko yang lebih nyata justru muncul dari kunci API. Sebuah kunci dan kode keamanan yang ditemukan dalam kode sumber publik milik perusahaan lain ternyata dapat mengembalikan data lokasi sungguhan. Peneliti tidak dapat memastikan akun siapa yang akhirnya dikenai biaya atas permintaan itu.

Bagi perusahaan yang mengembangkan agen, insiden ini menunjukkan bahwa batas teknis sandbox tidak cukup jika kredensial layanan bocor di repositori publik. Agen yang memakai kunci tersebut dapat menimbulkan permintaan berbayar atau akses data tanpa sepengetahuan pemilik akun.

Bagi pengguna, persoalannya bukan hanya apakah jawaban agen akurat, melainkan juga apakah layanan pihak ketiga menanggung lalu lintas yang dibuat selama pengujian.

Kontrol jaringan jadi pertaruhan bagi pengembang

Tencent menyebut perilaku itu tidak disengaja dan mengatakan tidak menemukan penargetan atau koordinasi yang disengaja. Namun, Swarmchasers menilai tidak ada tanda agen bekerja bersama, sehingga mereka menyebutnya sebagai satu armada, bukan kawanan yang terkoordinasi.

Di sini ada persoalan desain. Jika penguji meminta jawaban yang hanya tersedia melalui Amap, sementara agen tidak memiliki peramban dan aksesnya dibatasi, agen menghadapi hambatan yang tidak dapat diselesaikan lewat jalur resmi yang disediakan kepadanya.

Laporan tersebut menggambarkan bagaimana agen kemudian mencoba meminjam kemampuan peramban dari layanan lain atau mencari celah pada mekanisme perlindungan.

Kasus serupa juga pernah dilaporkan di Amerika Serikat. Reuters membandingkan insiden Tencent dengan sejumlah kejadian yang melibatkan agen OpenAI dan Anthropic, meski menilai kasus Tencent tidak seberat insiden-insiden itu.

Contoh tersebut memperluas persoalan dari satu perusahaan: agen yang terhubung ke internet dapat melampaui batas ketika evaluasi memberi akses jaringan yang longgar atau sasaran tugas mendorong pencarian jalan pintas.

Pada pekan yang sama, unit Seed milik ByteDance membentuk tim Alignment & Preparedness dan mulai merekrut 10 peneliti di berbagai negara. Menurut terjemahan 36Kr atas surel internal perusahaan, pembentukan tim itu mencerminkan perhatian lebih luas terhadap keselamatan agen; laporan tersebut tidak menyatakan bahwa langkah ByteDance dipicu oleh kasus Tencent.

Swarmchasers menemukan armada agen itu setelah aktivitasnya berlangsung hampir sepekan. Agen-agen tersebut masih beroperasi selama empat hari setelah temuan awal peneliti dipublikasikan. Tencent belum menjelaskan mengapa pengujian berlanjut selama periode itu.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 21 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis