JAKARTA — Buyback saham Prajogo Pangestu mencapai Rp 3,5 triliun, jauh di atas denda Rp 600 miliar terkait pelanggaran pasar modal yang terbukti dilakukan BREN dan CUAN. Empat emiten Grup Barito menjadwalkan pembelian kembali saham pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026, saat pasar saham Indonesia tertekan setelah pengumuman MSCI.
BRPT, BREN, TPIA, dan CUAN akan menggunakan kas internal untuk program tersebut. Aksi serupa juga dilakukan atau dipertimbangkan sejumlah emiten konglomerasi dan bank besar, termasuk BCA, BNI, BTN, Astra, serta Djarum.
Rincian buyback saham Grup Barito
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masing-masing menyiapkan dana maksimal Rp 1 triliun. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengalokasikan Rp 1 triliun, sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyiapkan Rp 500 miliar.
Keempat perusahaan akan membelanjakan anggaran secara bertahap. Dana itu mencakup pembelian saham, komisi broker, dan biaya lain yang berkaitan dengan pelaksanaan program. Bahan keterbukaan yang dirujuk menyebut periode buyback berakhir pada 31 Desember 2026.
Manajemen BRPT menyatakan pembelian kembali saham tidak akan mengganggu kegiatan usaha maupun pendapatan perseroan. Perusahaan menyebut modal kerja dan arus kasnya cukup untuk mendukung program.
“Pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif material terhadap kinerja operasional dan pendapatan Perseroan karena Perseroan memiliki modal kerja dan arus kas yang mencukupi kebutuhan dana untuk melaksanakan buyback,” tulis manajemen BRPT dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Rabu (21/10).
Besarnya anggaran Grup Barito menjadi pusat perhatian dalam gelombang buyback ini. Namun, nilai dana yang disiapkan tidak dengan sendirinya menunjukkan berapa banyak saham yang akhirnya akan dibeli; realisasi program tetap berjalan mengikuti pelaksanaan masing-masing emiten.
Bank besar merespons tekanan pasar
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjalankan buyback pada 19–21 Oktober 2026. Langkah itu dilakukan setelah harga sahamnya menyentuh batas auto rejection bawah selama dua hari perdagangan berturut-turut, yakni Jumat dan Senin lalu. Program ini meneruskan pembelian kembali saham yang sebelumnya berlangsung pada April dan Juni 2026.
“Aksi korporasi ini merupakan lanjutan dari realisasi program buyback saham yang sebelumnya dilaksanakan pada April dan Juni 2026 lalu,” tulis manajemen BBCA dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (19/10).
BBCA menyebut buyback mencerminkan keyakinan terhadap fundamental bisnis perseroan sekaligus menjadi upaya mendukung stabilisasi pasar modal. BNI juga akan melanjutkan programnya sebagai bagian dari respons terhadap dinamika pasar. Periode buyback BBNI, yang diumumkan melalui keterbukaan informasi pada Juli 2026, berlangsung hingga 26 Oktober 2026.
BTN belum menetapkan pelaksanaan. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) masih mengkaji buyback dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan strategis perusahaan, serta potensi nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan pergerakan harga saham perlu dibaca bersama fundamental bisnis, prospek pertumbuhan, dan transformasi perusahaan. Sikap BTN menunjukkan bahwa respons emiten terhadap gejolak tidak selalu berupa pembelian saham langsung; sebagian masih menimbang kecocokannya dengan strategi perusahaan.
Emiten Astra dan Djarum ikut menyiapkan dana
Di Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menyediakan Rp 400 miliar untuk buyback pada 2 Oktober hingga 28 Desember 2026. PT United Tractors Tbk (UNTR) menyiapkan Rp 2 triliun, dengan periode pelaksanaan 1 Oktober sampai 31 Desember 2026.
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), emiten menara telekomunikasi yang terafiliasi dengan Grup Djarum, menyiapkan Rp 500 miliar. Programnya berlangsung pada 30 September hingga 30 Desember 2026.
Di luar kelompok konglomerasi itu, PT Harum Energy Tbk (HRUM) mengalokasikan Rp 120 miliar untuk buyback pada 28 September hingga 24 Desember 2026. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyediakan Rp 500 miliar untuk program yang berlangsung pada 17 September hingga 17 Desember 2026.
Sumber pembanding, Kumparan, juga melaporkan rencana buyback PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), bersama BRPT dan TPIA. ADRO menyatakan akan mulai melaksanakan program pada 20 Oktober 2026.
Rencana itu telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPST pada 17 April 2026 dan memiliki periode 12 bulan sejak 18 April 2026. Rincian tersebut menambah gambaran bahwa langkah pembelian kembali saham meluas ke sejumlah emiten, bukan hanya bank atau perusahaan Grup Barito.
Buyback menjadi ujian kepercayaan investor
Bagi investor, buyback dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan bersedia menggunakan kas untuk membeli sahamnya sendiri ketika pasar melemah. Namun, keputusan itu perlu dibaca bersama kondisi keuangan, prospek usaha, dan realisasi pembelian, bukan hanya besarnya anggaran yang diumumkan.
Gelombang ini berlangsung setelah pengumuman MSCI pada akhir pekan lalu, ketika Bursa Efek Indonesia berupaya memulihkan kepercayaan investor. Pembelian kembali saham dapat mendukung stabilitas pasar, tetapi tidak otomatis menyelesaikan kekhawatiran pelaku pasar. Perhatian investor tetap tertuju pada kualitas kinerja dan fundamental tiap emiten.
Untuk Grup Barito, dana maksimal yang disiapkan empat perusahaan mencapai Rp 3,5 triliun, sedangkan jadwal programnya berakhir pada 31 Desember 2026.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.