Sabtu, 24 Oktober 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Starry Night Diduga Gambarkan Langit Nyata 22 Juli 1889

Starry Night Diduga Gambarkan Langit Nyata 22 Juli 1889
Starry Night Diduga Gambarkan Langit Nyata 22 Juli 1889

Analisis astronomi tim kemudian menunjukkan Bulan sebelum matahari terbit sekitar 22 Juli memiliki bentuk yang menyerupai sabit dalam lukisan. Gugus bintang Hyades di rasi Taurus juga diperkirakan terbit di timur bersama Venus.

Para peneliti turut memeriksa catatan kondisi cuaca pada masa itu. Hasil kajian mereka menunjukkan langit kemungkinan cukup cerah untuk memungkinkan Van Gogh melihat benda-benda langit tersebut. Dengan begitu, dugaan tentang sumber visual lukisan tidak hanya bertumpu pada kemiripan bentuk Bulan.

Tim juga menelusuri waktu kejang yang diyakini dialami Van Gogh pada periode tersebut. Dari surat-menyurat sang seniman dengan salah satu saudaranya, para peneliti berpendapat kejadian itu berlangsung lebih akhir pada Juli daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Surat-surat itu juga memuat rujukan pada tonggeret. Kim mengatakan keberadaan serangga tersebut selaras dengan kondisi yang lebih hangat pada Juli. Bagi tim, petunjuk dari korespondensi membantu menguji kembali urutan waktu, meski tidak dengan sendirinya membuktikan kapan setiap bagian lukisan dibuat.

Untuk menilai metode mereka, para peneliti juga membandingkannya dengan penggambaran langit dalam lukisan Van Gogh lainnya. Jose Luis Aragon, fisikawan di National Autonomous University of Mexico yang pernah meneliti The Starry Night secara terpisah, menilai pendekatan itu menggabungkan astronomi, fisika, dan sejarah seni secara cermat.

Lukisan bisa merangkai beberapa malam

Aragon mengingatkan bahwa tanggal yang diajukan sebaiknya dibaca sebagai teori yang menjanjikan, bukan kesimpulan final. Menurutnya, perbedaan antara bentuk Bulan pada Juni dan sabit di lukisan memang menjadi teka-teki yang layak diperiksa, tetapi belum cukup untuk menetapkan satu tanggal secara pasti.

Van Gogh bekerja di studio rumah sakit jiwa dan menggunakan sketsa serta ingatannya. Karena itu, pemandangan dalam lukisan bisa saja menggabungkan pengamatan dari beberapa malam, bukan menyalin satu langit secara persis. Tim peneliti sendiri mengakui kemungkinan tersebut.

“Langit itu kemungkinan merupakan gabungan dari banyak malam, sebagaimana diakui para penulis,” kata Aragon.

Perbedaan ini penting bagi pembaca yang melihat lukisan sebagai catatan langsung tentang langit pada satu waktu. Temuan tim memberi cara baru untuk membaca detail astronomisnya, tetapi tidak menghapus peran pilihan artistik dan ingatan Van Gogh. Lukisan itu bisa berangkat dari pengamatan nyata sekaligus menyusun ulang pemandangan demi kebutuhan komposisi.

Aragon justru menilai nilai utama kajian tersebut terletak pada gambaran tentang perhatian Van Gogh terhadap alam. “Yang paling meyakinkan bagi saya adalah pesan yang lebih luas: lukisan itu bukan fantasi murni. Van Gogh mengamati langit nyata dengan sangat saksama,” ujarnya.

The Starry Night kini berada di Museum of Modern Art di New York. Kim, yang telah menghabiskan bertahun-tahun menyelidiki lukisan itu, mengatakan dirinya belum pernah melihat karya aslinya secara langsung dan kini ingin mengunjungi museum tersebut.

Tanggal 22 Juli 1889 masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut. Untuk saat ini, penelitian itu menawarkan kemungkinan baru: langit dalam salah satu lukisan paling dikenal Van Gogh mungkin berawal dari pengamatan nyata, lalu dirangkai melalui ingatan dan imajinasi sang pelukis.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 24 Oktober 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir