Sabtu, 24 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Video: Dukung MBG, Menteri KKP Bangun 40 Ribu Budi Daya Ikan Mini RAS

Video: Dukung MBG, Menteri KKP Bangun 40 Ribu Budi Daya Ikan Mini RAS
Video: Dukung MBG, Menteri KKP Bangun 40 Ribu Budi Daya Ikan Mini RAS

JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan pembangunan budi daya ikan berbasis Mini RAS di 40.000 desa hingga 2029. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut program itu disiapkan untuk memperkuat pasokan protein ikan, termasuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Setiap titik desa ditargetkan menghasilkan 30 ton ikan nila, lele, hingga kerapu. Jika target itu tercapai di seluruh lokasi, produksi Mini RAS diproyeksikan mencapai 1,2 juta ton ikan per tahun. Program ini juga dirancang untuk membuka lapangan kerja dan mengembangkan industri pendukung budi daya.

Mini RAS KKP menyasar produksi ikan desa

Mini RAS adalah sistem budi daya ikan dengan sirkulasi air yang diputar dan digunakan kembali. KKP mengembangkan program ini setelah melakukan studi banding teknologi recirculating aquaculture system (RAS) di Jepang, China, dan Eropa. Bahan sumber menyebut sistem tersebut akan dikembangkan dengan pendekatan berkelanjutan.

Skala programnya besar. KKP menargetkan pengembangan di 40.000 desa hingga 2029, dengan hasil per titik sebesar 30 ton ikan nila, lele, hingga kerapu. Angka produksi tahunan yang diproyeksikan mencapai 1,2 juta ton ikan bergantung pada tercapainya target di seluruh titik desa.

Bagi masyarakat, produksi yang tersebar di desa berpotensi mendekatkan sumber ikan ke daerah konsumsi. Pasokan yang lebih kuat juga dapat mendukung pemenuhan protein dan gizi, tujuan yang disebut KKP dalam penjelasan program. Namun, bahan sumber belum merinci lokasi desa, tahapan pembangunan, ataupun kapan unit pertama mulai beroperasi.

Target produksi saja tidak cukup untuk memastikan program berjalan. Pengelolaan sistem sirkulasi, ketersediaan bibit dan pakan, serta tenaga yang mampu menjalankan budi daya akan menentukan hasil di lapangan. Rincian pelaksanaan tersebut belum dijabarkan dalam bahan yang tersedia.

Target bibit dan lapangan kerja ikut disiapkan

KKP juga mengaitkan Mini RAS dengan pengembangan industri bibit ikan. Targetnya mencapai 15 miliar ekor bibit, sementara program diproyeksikan menciptakan lapangan kerja hingga 80 ribu. Industri pakan ikan turut disebut sebagai bagian dari rantai pendukung yang akan dikembangkan.

Rantai pasok ini penting karena unit budi daya di banyak desa membutuhkan dukungan produksi yang konsisten. Bibit menjadi salah satu kebutuhan awal, sementara pakan menopang kegiatan pemeliharaan. Jika industri pendukung tumbuh sejalan dengan pembangunan Mini RAS, program berpotensi menggerakkan kegiatan ekonomi lebih luas daripada produksi ikan saja.

Namun, sumber tidak merinci apakah target 80 ribu pekerjaan mencakup seluruh mata rantai usaha atau hanya kegiatan budi daya. Begitu pula, belum ada keterangan mengenai pembagian target bibit dan kapasitas produksi pakan di tiap daerah. Angka-angka itu masih berupa sasaran program yang disampaikan KKP.

Trenggono menyampaikan rencana Mini RAS sebagai bagian dari implementasi visi Presiden Prabowo terkait pemenuhan gizi protein ikan budi daya masyarakat. Dengan demikian, program ini menghubungkan agenda pangan dengan pengembangan usaha perikanan di desa.

Hasil akhirnya akan bergantung pada kemampuan KKP dan pelaksana setempat mengubah target nasional menjadi unit produksi yang benar-benar beroperasi.

Modernisasi pelabuhan dan pendidikan perikanan

Mini RAS bukan satu-satunya agenda penguatan sektor perikanan yang disebut KKP. Kementerian itu juga mendorong pembangunan empat pelabuhan perikanan modern bertaraf internasional. Pelabuhan-pelabuhan tersebut diharapkan dapat beroperasi pada akhir 2028.

Modernisasi pelabuhan ditujukan untuk mengangkat industri penangkapan ikan, pengolahan, dan kondisi kerja awak kapal perikanan. KKP berharap penguatan sektor itu turut meningkatkan kontribusi kelautan dan perikanan terhadap pertumbuhan ekonomi serta mendukung kesejahteraan awak kapal. Bahan sumber tidak menyebut nama ataupun lokasi empat pelabuhan yang direncanakan.

Di bidang sumber daya manusia, KKP menggabungkan 11 politeknik vokasi binaannya ke dalam Ocean Institute of Indonesia (OII), atau Institut Kelautan Indonesia. Penggabungan ini disebut sebagai upaya mendukung penyediaan SDM untuk sektor kelautan dan perikanan.

Ketersediaan tenaga terampil akan berpengaruh pada kemampuan industri mengoperasikan sistem budi daya dan mengelola fasilitas perikanan. Akan tetapi, bahan sumber belum menjelaskan bentuk kurikulum OII, mekanisme penggabungan, ataupun keterkaitannya secara langsung dengan pelaksanaan Mini RAS di desa.

Rencana-rencana itu disampaikan Sakti Wahyu Trenggono dalam dialog dengan Andi Shalini di Squawk Box CNBC Indonesia pada Kamis, 22/10/2026. Untuk Mini RAS, sasaran yang dipaparkan KKP mencakup pembangunan di 40.000 desa hingga 2029 dan produksi 1,2 juta ton ikan per tahun.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 24 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis