BANGKA TENGAH — Kecelakaan Bangka Tengah di Jalan Raya Desa Jelutung menewaskan empat orang dalam satu keluarga pada Sabtu (24/10). Salah satu korban ialah Erika Fitri Wardani, dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung.
Erika, suami, dan dua anaknya berada di dalam mobil Honda Brio yang bertabrakan dengan truk. Keluarga itu meninggal dunia, sementara pihak kampus mengantar jenazah mereka ke Bengkulu dan menyampaikan duka kepada keluarga serta rekan kerja korban.
Kecelakaan Bangka Tengah libatkan Brio dan truk
Menurut laporan detikSumbagsel, kecelakaan terjadi pukul 12.50 WIB di Jalan Raya Desa Jelutung, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kendaraan yang terlibat adalah mobil Fuso berpelat BN-8720-PD dan Honda Brio bernomor polisi BN-1945-BL.
Kabid Humas Polda Babel Kombes Agus Sugiyarso membenarkan empat orang di mobil Brio meninggal dunia. Ia menyebut para korban sebagai satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak.
“Iya benar, akibat kecelakaan tersebut pengemudi mobil Brio dan penumpangnya meninggal dunia sebanyak empat orang. Identitas korban adalah satu keluarga kandung, terdiri dari ayah, ibu, dan 2 orang anak,” kata Agus.
Keterangan yang tersedia menyebut Brio menabrak truk di ruas jalan tersebut. Namun, bahan laporan belum merinci penyebab kecelakaan maupun kronologi sebelum kedua kendaraan bertabrakan. Informasi itu penting agar peristiwa tidak disimpulkan melampaui keterangan yang telah disampaikan kepolisian.
Kampus kehilangan dosen PGSD
Kabar meninggalnya Erika juga membawa duka bagi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Ia mengajar di Program Studi PGSD, tempat ia mengabdikan diri sebagai dosen. Perwakilan kampus turut mengantar kepulangan jenazah ke Bengkulu.
Rektor Unmuh Babel, Fadillah Sabri, menyebut kepergian Erika dan keluarganya sebagai kehilangan besar bagi kampus, terutama bagi rekan sejawat dan lingkungan program studi tempat almarhumah bekerja.
“Kepergian Erika dan keluarganya menjadi kehilangan besar bagi kampus, khususnya bagi rekan sejawat dan lingkungan Program Studi PGSD tempat almarhumah mengabdikan diri,” kata Fadillah dalam keterangan resmi yang dilihat pada Minggu (25/10/2026).
Dampak kecelakaan ini terasa langsung pada keluarga dan lingkungan kerja korban. Selain kehilangan satu keluarga, kampus juga kehilangan seorang tenaga pengajar yang selama ini mengabdi di PGSD. Pihak universitas menyampaikan doa bagi almarhumah, suami, dan kedua anaknya, serta dukungan bagi mereka yang ditinggalkan.
Fadillah berharap keluarga besar, rekan sejawat, dan seluruh pihak yang berduka diberi kekuatan menghadapi kehilangan tersebut. “Semoga keluarga besar yang ditinggalkan, rekan sejawat, serta seluruh pihak yang berduka diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi kehilangan ini,” ujar dia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.