Minggu, 27 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

201 Karhutla Terjadi di Bangka Tengah, Ternyata Damkar Cuma Punya 1 Mobil Siap Pakai

Petugas pemadam kebakaran melakukan operasi pemadaman karhutla di lahan bergambut Bangka Tengah dengan keterbatasan armada
Operasi pemadaman karhutla di Bangka Tengah dilakukan dengan keterbatasan armada, namun didukung TNI-Polri dan pemerintah provinsi (Ilustrasi). (Ilustrasi: AI)

KOBA — Sepanjang 2026, Kabupaten Bangka Tengah tercatat mengalami 201 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda 354,8 hektare lahan hingga 26 September lalu. Angka itu menunjukkan tingkat keseringan kebakaran di daerah ini masih memprihatinkan, meski frekuensinya mulai menurun menjelang akhir musim kemarau.

Tantangan besar menjelang musim hujan justru datang dari keterbatasan peralatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Tengah hanya memiliki satu unit mobil pemadam kebakaran yang masih layak operasional. Empat unit lainnya rusak atau tidak laik jalan.

“Kondisi sekarang karhutla memang sudah melandai, namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan terutama untuk titik kebakaran di lahan bergambut,” kata Kepala BPBD Bangka Tengah Yudhi Sabara saat diwawancara di Koba, Sabtu, 26 September 2026.

Krisis Armada Teratasi Bantuan TNI-Polri

Meski terbatas, keterbatasan armada pemadam itu sejauh ini tidak menjadi penghalang serius berkat dukungan lintas institusi. TNI, Polri, dan pemerintah provinsi turut andil dalam setiap operasi pemadaman yang dilakukan. Kolaborasi tersebut memungkinkan penanganan karhutla tetap berjalan meski dengan sumber daya minimal dari BPBD lokal.

“Meskipun keterbatasan armada itu ada, kondisi tersebut tidak menjadi kendala dalam memadam api karena beberapa pihak turut membantu seperti TNI dan Polri serta pemerintah provinsi,” jelas Sabara.

Kasus-kasus karhutla tersebar di enam kecamatan, dengan konsentrasi tertinggi di Kecamatan Koba dan Pangkalanbaru. BPBD terus melakukan pemantauan dan mitigasi di lokasi-lokasi yang dinilai rawan, termasuk mengerahkan satgas karhutla di setiap kecamatan untuk mengantisipasi titik api baru.

Lahan Bergambut: Musuh Utama Pemadaman

Salah satu persoalan teknis yang menyulitkan petugas adalah karakteristik lahan bergambut. Tumpukan daun kering dan kayu yang tebal membuat api mudah menyebar. Bahkan setelah dilakukan penyiraman berkali-kali, api masih sulit benar-benar mati.

“Untuk lahan bergambut memang menjadi tantangan tersendiri, sulit memadamkan api kendati sudah dilakukan beberapa kali penyiraman,” ungkap Sabara.

Untuk mencegah api meluas ke area yang lebih luas, petugas melakukan lokalisasi dengan menggali parit sebagai pembatas penyebaran api. Strategi ini menjadi krusial mengingat karakteristik lahan yang sulit dikontrol. Tanpa intervensi dini dan tepat, karhutla di area bergambut bisa berkembang jadi bencana lebih besar yang menelan biaya pemulihan jauh lebih tinggi.

Persiapan Menjelang Musim Depan

Meski kemarau mulai menipis, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi musim kemarau berikutnya. Pemerintah kabupaten sedang merumuskan strategi mitigasi jangka panjang bersama perusahaan pemegang izin usaha perkebunan dan masyarakat setempat.

Salah satu rencana adalah mendorong pembangunan embung atau kolam penampung air di kawasan rawan kebakaran guna mempercepat akses sumber air saat terjadi karhutla.

Sebagian perusahaan juga diminta untuk melakukan penataan lahan berupa konstruksi sekat atau bandar yang dapat menghambat pergerakan api. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi beban operasional petugas sekaligus meminimalkan luasan lahan yang terdampak di musim-musim mendatang.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 27 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online