BELGRADE — Gerakan mahasiswa Serbia menantang dominasi partai penguasa lewat pemilu parlemen, dengan Aleksandar Vučić mengakui partainya kalah pada Minggu malam. Pengakuan itu mengakhiri kekuasaan Partai Progresif Serbia selama 14 tahun, meski hasil resmi pemilu belum diumumkan.
Vučić menyatakan Student List, gerakan elektoral yang didukung mahasiswa, diperkirakan meraih 135 hingga 140 kursi dari total 250 kursi parlemen. Koalisi yang dipimpinnya diproyeksikan mendapat 105 kursi. Angka tersebut merupakan perkiraan Vučić, bukan hasil resmi.
Perubahan ini berawal dari gerakan akar rumput yang tumbuh melalui aksi protes dan beralih menjadi kekuatan elektoral. Kini, tantangan berikutnya ialah menyepakati calon perdana menteri dan membentuk pemerintahan.
Gerakan mahasiswa Serbia berangkat dari protes
Gerakan mahasiswa menguat setelah kanopi sebuah stasiun kereta di Novi Sad runtuh pada November 2024 dan menewaskan 16 orang. Peristiwa itu memicu kemarahan publik atas dugaan korupsi pemerintah. Para pengunjuk rasa kemudian membawa tuntutan akuntabilitas dan reformasi institusi ke arena pemilu.
Gerakan ini tidak bertumpu pada satu pemimpin tunggal. Ahli jantung Ilija Srdanović memimpin Student List, tetapi gerakan akar rumput itu menekankan kepemimpinan yang terdesentralisasi. Bentuk organisasi ini menjadi bagian penting dari identitas gerakan yang menghimpun dukungan mahasiswa.
Hasil yang diproyeksikan Vučić memberi gerakan tersebut peluang untuk memengaruhi pembentukan pemerintahan. Namun, perolehan kursi yang ia sampaikan belum memastikan siapa yang akan menjadi perdana menteri atau bagaimana susunan kabinet nanti.
Dampak kekalahan bagi Serbia dan hubungan luar negeri
Kekalahan partai penguasa berpotensi membuka jalan bagi reformasi demokrasi di Serbia. Vučić sebelumnya mengonsolidasikan kekuasaan, sementara gerakan mahasiswa berkampanye dengan tuntutan pertanggungjawaban dan pembenahan institusi. Bagi masyarakat Serbia, hasil pemilu dapat menentukan apakah tuntutan yang berkembang sejak protes berujung pada perubahan kebijakan dan tata kelola.
Perubahan pemerintahan juga menarik perhatian karena posisi Serbia dalam hubungan internasional. Negara Balkan itu menjaga hubungan dengan Rusia sekaligus negara-negara Barat. Vučić sebelumnya menjalin hubungan dengan keluarga dan sekutu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, termasuk Donald Trump Jr. dan Richard Grenell.
Rencana pengembangan yang melibatkan Jared Kushner, menantu Trump, juga terseret kontroversi. Karena itu, pergeseran kekuasaan dapat memunculkan pertanyaan mengenai arah hubungan Serbia dengan Amerika Serikat, meski bahan yang tersedia belum menjelaskan bagaimana pemerintahan baru akan menanganinya.
Peristiwa ini juga sejalan dengan gelombang aktivisme anak muda di Eropa. Berbagai gerakan kaum muda di kawasan itu mengangkat isu korupsi, pendidikan, dan tekanan ekonomi. Di Serbia, tuntutan yang berawal dari kemarahan atas runtuhnya kanopi stasiun berkembang menjadi upaya merebut pengaruh melalui pemilu.
Hasil resmi dan pembentukan pemerintahan dinanti
Vučić menyampaikan pada Minggu malam bahwa kekalahan partainya sudah jelas, menurut terjemahan pengumumannya. Namun, penghitungan resmi belum diumumkan dalam bahan yang menjadi dasar laporan ini. Selisih antara proyeksi kursi Student List dan koalisi Vučić karena itu masih perlu dibaca sebagai perkiraan awal.
Gerakan mahasiswa Serbia memiliki gema sejarah. Perubahan ini mengingatkan pada gerakan mahasiswa yang ikut menggulingkan Slobodan Milošević pada 2000. Saat merayakan hasil pemilu pada Minggu, warga kembali meneriakkan seruan yang pernah digunakan pada masa itu: “He’s finished!”
Student List kini harus menentukan calon perdana menteri dan membentuk pemerintahan. Serbia juga akan menggelar pemilihan presiden terpisah pada Desember untuk menggantikan Vučić. Pernyataan Vučić tentang hasil pemilu masih menjadi perkembangan terbaru yang disampaikan dalam bahan sumber: ia menyebut partainya kalah, sementara pengumuman resmi belum tersedia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.