WASHINGTON — Kennedy Center kembali jadi pusat sengketa. Dewan pengurusnya pada Kamis menyetujui rencana untuk menutup gedung itu selama dua tahun demi renovasi, lalu memasang nama Presiden Donald Trump di bangunan.
Keputusan itu langsung membuka pertanyaan baru: apakah langkah dewan yang dipenuhi sekutu Trump ini akan kembali digugat di pengadilan. Sebab, sebelumnya seorang hakim federal pada Mei sudah memerintahkan penghentian rencana penutupan dan meminta nama Trump dihapus dari gedung.
Kennedy Center, putusan dewan, dan nama Trump
Menurut laporan Associated Press, dewan wali Kennedy Center memilih melanjutkan rencana penutupan gedung untuk renovasi dua tahun. Pada rapat yang sama, mereka juga menyetujui pemasangan nama Trump di bangunan.
The New York Times menyebut tulisan baru itu akan berbunyi, “Restored and Renovated by President Donald J. Trump.” Perwakilan Kongres Joyce Beatty mengonfirmasi kabar itu kepada AP. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menghindari putusan Hakim Distrik AS Christopher R. Cooper, yang menulis bahwa undang-undang “makes crystal clear that the Center is to be named for President Kennedy.”
Cooper juga mengatakan dalam putusan yang sama bahwa pemungutan suara awal dewan pada Maret untuk menutup venue mulai 5 Juli adalah “ill-informed and seemingly preordained.” Namun, ia masih membuka kemungkinan penutupan jika dewan meninjau rencana itu lebih mendalam lalu tetap memutuskan untuk melanjutkannya.
Dampaknya ke Kennedy Center dan para seniman
Rapat terbaru itu digelar setelah dewan mempelajari konsekuensi dan biaya dari penutupan. AP melaporkan ada tiga skenario yang dibahas: penutupan penuh, penutupan parsial selama lima tahun, dan serangkaian penutupan bertahap yang lebih terbatas.
Soal dampak, situasinya tidak kecil. Kennedy Center sudah lebih dari setahun berada dalam krisis. Pada Februari 2025, Trump memecat dewan dan mengangkat dirinya sendiri sebagai ketua. Ia lalu menunjuk Richard Grenell, mantan duta besar untuk Jerman dan sekutu dekatnya, sebagai pelaksana tugas direktur pusat seni itu.
Di bawah Trump dan Grenell, venue ini kehilangan sejumlah pertunjukan dan seniman besar. “Hamilton,” Shonda Rhimes, dan Ben Folds termasuk yang hengkang. Washington National Opera juga meninggalkan venue yang selama puluhan tahun mereka tempati.
Masalah membesar lagi pada akhir tahun lalu ketika dewan memilih mengganti nama venue menjadi Donald J. Trump and the John F. Kennedy Memorial Center for the Performing Arts. Sejumlah penampil, termasuk musisi jazz Chuck Redd, membatalkan berbagai pertunjukan liburan.
Kennedy Center sempat mengancam akan menggugat Redd, dan sengketa itu baru mereda pekan ini ketika seorang hakim pengadilan tinggi di Washington, D.C., memerintahkan pusat seni itu membayar lebih dari $250,000 untuk biaya pengacara dan ongkos hukum lain milik Redd.
Belum jelas apakah pemungutan suara terbaru ini akan kembali diperdebatkan di pengadilan. Tapi satu hal sudah pasti: perselisihan soal Kennedy Center belum selesai, dan langkah berikutnya bisa menentukan apakah pusat seni paling terkenal di ibu kota Amerika Serikat itu benar-benar akan ditutup dua tahun atau kembali terseret sengketa hukum baru.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.