Senin, 26 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Mesin Vending AI Ubah Cara Belanja di Hong Kong?

Mesin Vending AI Ubah Cara Belanja di Hong Kong?
Mesin Vending AI Ubah Cara Belanja di Hong Kong? Foto: Scmp

HONG KONG — Mesin vending AI memungkinkan warga Chai Wan mengambil barang lalu pergi tanpa membayar di kasir; sistem mencatat produk yang diambil melalui sensor. Sherry Shum, pekerja ritel berusia 37 tahun, menggunakan mesin itu untuk membeli minuman dan makanan ringan senilai HK$60 (US$7.70).

Perubahan ini memangkas langkah belanja menjadi sederhana: Shum memindai kode QR dengan ponsel, membuka pintu mesin, memilih barang, lalu menutupnya. Pembelian tercatat saat barang diangkat dari rak, menurut uraian sumber.

Belanja cukup dengan memindai kode QR

Shum menemukan mesin pintar itu di dekat rumahnya di Chai Wan. Ia mengambil sebotol Coca-Cola, teh oolong, dan sebungkus keripik kentang. Tidak ada transaksi di depan kasir yang disebutkan dalam proses tersebut.

Rutinitas itu memberi gambaran tentang cara kerja mesin vending berpintu terbuka. Konsumen mengakses barang dari rak setelah memindai kode QR, sementara mesin mendeteksi produk yang berpindah dari tempatnya. Sumber menyebut proses belanja berlangsung mulus; waktu yang dibutuhkan Shum terutama untuk menentukan barang yang ingin dibeli.

Model ini berbeda dari mesin vending biasa yang mengeluarkan barang setelah pembayaran dilakukan. Pada sistem berpintu terbuka, pembeli memilih sendiri produk di dalam mesin. Pencatatan barang bergantung pada kemampuan perangkat mengenali apa yang diambil.

Mesin vending AI dan dampaknya bagi ritel

Bagi konsumen, kemudahan utamanya adalah proses mengambil barang yang cepat tanpa perlu menunggu layanan kasir. Mesin seperti ini juga memberi pengalaman belanja yang lebih mandiri, terutama untuk pembelian kecil seperti minuman dan camilan. Namun, sumber yang tersedia tidak menjelaskan rincian metode pembayaran setelah barang diambil ataupun bagaimana sistem menangani kesalahan pencatatan.

Bagi industri ritel, mesin berpintu terbuka menawarkan bentuk layanan yang berbeda dari penjualan melalui kasir. Teknologi perlu menghubungkan akses pengguna, pemantauan barang, dan pencatatan pembelian agar transaksi berjalan sesuai barang yang benar-benar diambil. Jika pencatatan meleset, pengalaman praktis bagi pelanggan dapat berubah menjadi persoalan transaksi.

Contoh Shum memperlihatkan penerapan konkret teknologi itu di lingkungan tempat tinggalnya, bukan sekadar konsep. Ia dapat memilih beberapa produk sekaligus dari rak dan meninggalkan mesin setelah menutup pintu. Nilai belanjanya tercatat HK$60 (US$7.70), untuk Coca-Cola, teh oolong, dan keripik kentang.

Bahan sumber hanya memuat pengalaman Shum dan cara dasar mesin bekerja. Belum ada keterangan mengenai jumlah mesin sejenis di Hong Kong, perusahaan pengelola, maupun rencana penerapannya di wilayah lain. Karena itu, dampak lebih luas terhadap lanskap ritel Hong Kong belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia.

Yang tampak jelas dari pengalaman Shum adalah perubahan pada langkah belanja: pindai kode, buka pintu, pilih barang, lalu pergi. Sistem mendeteksi produk yang diambil dari rak.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 26 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis