Meski jabatan presiden Bulgaria lebih banyak bersifat seremonial, kepala negara tetap punya wewenang yang berpengaruh. Presiden memimpin angkatan bersenjata, dapat memveto undang-undang, menandatangani perjanjian internasional, dan menunjuk duta besar. Karena itu, hasil putaran kedua dapat memengaruhi arah kebijakan dan keseimbangan kekuasaan di negara anggota Uni Eropa dan NATO tersebut.
Isu keamanan ikut membayangi kampanye. Serangan drone terhadap kapal komersial di Laut Hitam dekat pesisir Bulgaria meningkatkan kecemasan atas meluasnya konflik. Pemerintah meminta bantuan mitra untuk memperkuat keamanan maritim, menurut AP.
Perdebatan itu berdampak langsung pada keamanan pelayaran dan keluarga yang menghadapi kenaikan harga energi serta inflasi. AP melaporkan banyak keluarga, terutama di wilayah pedesaan, kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pilihan presiden berikutnya akan berlangsung ketika warga menghadapi tekanan ekonomi, sementara negara berupaya merespons risiko keamanan di perairannya.
AP menyebut pemilu kali ini sebagai ujian besar pertama bagi Progressive Bulgaria setelah kemenangan partai itu dalam pemilihan parlemen pada April. Pengamat juga memperingatkan kemenangan Yotova dapat mempertahankan kepresidenan di tangan mayoritas yang berkuasa, sehingga pengawasan antarlembaga terhadap keputusan pemerintah berpotensi melemah.
Kedua kandidat kini memasuki putaran penentu dengan janji yang bertolak belakang soal hubungan dengan Moskow dan dukungan terhadap Ukraina. Gyurov menyampaikan pilihannya dengan tegas: “Saya ingin Bulgaria punya suara sendiri di Eropa.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.