Bahlil turut mengingatkan pentingnya semangat kebersamaan di antara negara-negara anggota ASEAN. Menurut dia, sikap saling menghargai perlu dijaga dalam hubungan bilateral maupun regional, bukan hanya ketika membahas ketentuan kontrak.
“Jadi di sinilah azas kebersamaan, kita harus equal treatment, Indonesia itu terlalu baik. Menghargai kontrak, tapi hargai juga dong hubungan sesama negara-negara,” terang Bahlil.
Ia menghubungkan pesan itu dengan lambang ASEAN berupa ikatan rumpun padi berwarna kuning. Simbol tersebut, menurut penjelasan dalam bahan sumber, mencerminkan cita-cita pendiri ASEAN untuk membangun kawasan Asia Tenggara yang bersatu, makmur, dan sejahtera.
“Lambang ASEAN itu padi dan kapas diikat, itu artinya apa? Melambangkan kemakmuran bersama, penghargaan bersama, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” ujar Bahlil.
Pada konteks ekspor gas, pengurangan pasokan sebesar 31 juta kaki kubik standar per hari menjadi angka yang paling konkret bagi perkembangan kerja sama tersebut. Bagi industri dan pihak yang bergantung pada pasokan lintas negara, perubahan volume pasokan dapat menjadi perhatian langsung, sementara isi sumber tidak merinci dampak operasional atau perubahan kontrak setelah pengurangan itu.
Bahlil tidak menyatakan bahwa penghormatan dapat menggantikan kewajiban kontraktual. Ia justru menegaskan pemerintah memahami aturan, seraya meminta hubungan antarpihak diperlakukan setara. “Saya paham betul tentang kontrak,” tegasnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.