Namun, momentum itu tidak menghasilkan gol kedua. Havertz kembali menyia-nyiakan peluang, sementara Arsenal kesulitan menembus barisan belakang Fleetwood. Tuan rumah bahkan sempat mengancam lewat Will Davies sebelum Meslier menggagalkan tembakannya.
Dowman kemudian diusir wasit pada menit ke-90 dalam kronologi laporan utama, setelah insiden yang dinilai sebagai tendangan ke arah Harrison Neal. Andy Hinchcliffe, komentator Sky Sports, menyebut keputusan itu sangat keras.
Liputan6 Bola dan Detik Sport mencatat kartu merah terjadi pada menit ke-85, sehingga laporan waktu pengusiran berbeda; keduanya sepakat Arsenal menutup waktu normal dengan 10 pemain.
Kondisi itu membuat Arsenal memasuki adu penalti setelah menghabiskan bagian akhir laga dengan satu pemain lebih sedikit. Menurut laporan Liputan6 Bola, Odegaard, Havertz, dan Gyokeres mencetak gol dari titik putih, sedangkan Guimaraes gagal. Fleetwood menyelesaikan seluruh eksekusinya, dengan Haughey—bek berusia 19 tahun menurut pelatihnya—menjadi penendang terakhir.
Bagi Fleetwood, kemenangan ini melampaui kelolosan ke perempat final. Klub yang baru meninggalkan sepak bola nonliga pada 2012 itu menyingkirkan juara bertahan Premier League di hadapan pendukungnya sendiri. Hasil tersebut juga menegaskan bahwa penguasaan bola dan jumlah tembakan tak otomatis menentukan pemenang ketika lawan disiplin bertahan dan mampu menjaga ketenangan dalam momen penentuan.
Pelatih Fleetwood Matt Lawlor mengatakan timnya tidak berlatih adu penalti sebelum pertandingan. “I’m going to be honest, we haven’t practised once,” kata Lawlor kepada Sky Sports. Ia menilai timnya harus menutup ruang dan membatasi pilihan Arsenal, lalu membiarkan para pemain mengambil tanggung jawab saat adu penalti.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.