JAKARTA — Sumpah Pemuda terasa dekat ketika urusan bangsa masuk ke percakapan di antrean kopi. Di sebuah kedai lokal di kawasan SCBD, Jakarta, penulis opini ini mengamati sekitar 100 orang membeli kopi dalam satu jam; sebagian besar anak muda berpakaian rapi dan bergerak cepat dengan ponsel di tangan.
Pengamatan itu terjadi minggu lalu, saat penulis datang lebih awal ke pertemuan bisnis di Bursa Efek Indonesia. Setelah tiga tahun tak menginjakkan kaki di kawasan itu, ia mendapati anak muda membicarakan geopolitik dan dampaknya terhadap pekerjaan. Pekan tersebut terasa berat karena IHSG memerah.
Yang menarik bukan sekadar topik obrolannya. Bagi generasi yang ditemui penulis, urusan bisnis dan urusan bangsa tampak saling terkait. Peringatan Sumpah Pemuda, yang jatuh setiap 28 Oktober, lalu terasa lebih dari agenda upacara atau unggahan media sosial.
Sumpah Pemuda dan identitas bersama
Pada 1928, organisasi pemuda dari berbagai daerah berkumpul di Batavia dalam Kongres Pemuda II. Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, dan organisasi lain membawa identitas masing-masing. Dari pertemuan itu lahir ikrar bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia.
Penulis melihat ikrar tersebut sebagai strategi membangun identitas bersama. Para pemuda saat itu belum memiliki negara merdeka ataupun modal besar. Namun mereka percaya perbedaan tidak harus menjadi penghalang untuk bergerak ke arah yang sama.
Generasi muda di SCBD menghadapi tantangan berbeda: persaingan global, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian ekonomi. Benang merahnya, menurut penulis, adalah keinginan untuk tidak sekadar menjadi penonton. Mereka ingin ikut menentukan masa depan, termasuk melalui pekerjaan dan usaha yang dibangun.
Sudut pandang ini memberi makna praktis pada peringatan Sumpah Pemuda. Persatuan bukan hanya simbol yang muncul saat upacara. Ia juga tampak ketika orang memahami bahwa keputusan ekonomi, perkembangan dunia, dan kehidupan sehari-hari saling memengaruhi.
Persatuan tanpa harus berada di satu tempat
Penulis mengaitkan perubahan itu dengan pengalaman bekerja secara lebih fleksibel. Slow living, dalam pengertian yang ia gunakan, bukan berhenti beraktivitas, melainkan tetap produktif tanpa harus selalu bekerja dari satu gedung atau kota. Ia menyebut ibunya yang berusia 75 tahun masih aktif bekerja dan bepergian untuk urusan pekerjaan maupun pribadi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.