Rabu, 28 Oktober 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Sumpah Pemuda di Antrean Kedai Kopi SCBD Jakarta

Sumpah Pemuda di Antrean Kedai Kopi SCBD Jakarta
Sumpah Pemuda di Antrean Kedai Kopi SCBD Jakarta Foto: Cnbcindonesia

JAKARTA — Sumpah Pemuda terasa dekat ketika urusan bangsa masuk ke percakapan di antrean kopi. Di sebuah kedai lokal di kawasan SCBD, Jakarta, penulis opini ini mengamati sekitar 100 orang membeli kopi dalam satu jam; sebagian besar anak muda berpakaian rapi dan bergerak cepat dengan ponsel di tangan.

Pengamatan itu terjadi minggu lalu, saat penulis datang lebih awal ke pertemuan bisnis di Bursa Efek Indonesia. Setelah tiga tahun tak menginjakkan kaki di kawasan itu, ia mendapati anak muda membicarakan geopolitik dan dampaknya terhadap pekerjaan. Pekan tersebut terasa berat karena IHSG memerah.

Yang menarik bukan sekadar topik obrolannya. Bagi generasi yang ditemui penulis, urusan bisnis dan urusan bangsa tampak saling terkait. Peringatan Sumpah Pemuda, yang jatuh setiap 28 Oktober, lalu terasa lebih dari agenda upacara atau unggahan media sosial.

Sumpah Pemuda dan identitas bersama

Pada 1928, organisasi pemuda dari berbagai daerah berkumpul di Batavia dalam Kongres Pemuda II. Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, dan organisasi lain membawa identitas masing-masing. Dari pertemuan itu lahir ikrar bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia.

Penulis melihat ikrar tersebut sebagai strategi membangun identitas bersama. Para pemuda saat itu belum memiliki negara merdeka ataupun modal besar. Namun mereka percaya perbedaan tidak harus menjadi penghalang untuk bergerak ke arah yang sama.

Generasi muda di SCBD menghadapi tantangan berbeda: persaingan global, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian ekonomi. Benang merahnya, menurut penulis, adalah keinginan untuk tidak sekadar menjadi penonton. Mereka ingin ikut menentukan masa depan, termasuk melalui pekerjaan dan usaha yang dibangun.

Sudut pandang ini memberi makna praktis pada peringatan Sumpah Pemuda. Persatuan bukan hanya simbol yang muncul saat upacara. Ia juga tampak ketika orang memahami bahwa keputusan ekonomi, perkembangan dunia, dan kehidupan sehari-hari saling memengaruhi.

Persatuan tanpa harus berada di satu tempat

Penulis mengaitkan perubahan itu dengan pengalaman bekerja secara lebih fleksibel. Slow living, dalam pengertian yang ia gunakan, bukan berhenti beraktivitas, melainkan tetap produktif tanpa harus selalu bekerja dari satu gedung atau kota. Ia menyebut ibunya yang berusia 75 tahun masih aktif bekerja dan bepergian untuk urusan pekerjaan maupun pribadi.

Perubahan pola kerja turut menggeser arti kebersamaan. Seseorang di Labuan Bajo, misalnya, dapat bekerja untuk klien di Singapura, berkolaborasi dengan desainer di Yogyakarta, lalu berdiskusi dengan investor di Jakarta atau luar negeri tanpa berpindah tempat. Teknologi membuat hubungan lintas wilayah lebih mudah dijalankan.

Namun kemudahan itu punya sisi yang perlu diwaspadai. Algoritma dapat mengurung pengguna dalam gelembung informasi, sementara hoaks bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Polarisasi pun dapat dipelihara demi engagement. Teknologi membuka jalan untuk terhubung, tetapi hubungan digital tidak otomatis menghasilkan pemahaman bersama.

Bagi masyarakat Indonesia, dampaknya terasa pada cara orang bekerja, mencari informasi, dan membaca persoalan bersama. Jika ruang digital hanya memperkuat kelompok sendiri, kemudahan komunikasi justru bisa memperlebar jarak. Sebaliknya, kolaborasi jarak jauh dapat mempertemukan keahlian dan peluang yang sebelumnya sulit dijangkau, seperti kerja lintas kota yang digambarkan penulis.

Geopolitik terasa sampai ke pekerjaan

Di kedai kopi itu, percakapan tentang geopolitik tidak terdengar sebagai urusan yang jauh. Ketegangan dagang, perubahan harga energi dan komoditas, arah suku bunga global, serta persaingan teknologi antarkekuatan besar dapat memengaruhi harga barang, ketersediaan pekerjaan, dan peluang usaha rintisan.

Penulis juga menyinggung kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan yang memicu protes sejumlah negara di kawasan. Respons terhadap protes itu beragam. Baginya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kejadian lokal dapat diketahui dunia dengan cepat dan perlu dilihat dari berbagai sudut pandang sebelum orang menentukan sikap.

Itulah sebabnya obrolan tentang geopolitik berpindah dari ruang diplomasi ke antrean kopi. Dampaknya dapat menyentuh keputusan perusahaan dan peluang kerja, bukan hanya hubungan antarnegara. Warga yang memahami kaitan itu punya bekal lebih baik untuk membaca risiko sekaligus peluang.

Tetapi pengetahuan perlu berujung pada tindakan. Penulis mendorong agar pemahaman tentang perubahan dunia diterjemahkan menjadi bisnis, lapangan kerja, dan inovasi bernilai tambah, bukan berhenti sebagai percakapan atau menjadikan Indonesia sekadar pasar bagi produk negara lain.

Bonus demografi menuntut akses yang lebih luas

Lebih dari separuh penduduk Indonesia berasal dari generasi milenial dan Gen Z, menurut angka yang dicantumkan penulis. Struktur usia dengan banyak penduduk produktif disebut bonus demografi.

Peluang itu tidak berlangsung tanpa batas: pengelolaan yang baik dapat mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045, sementara kegagalan berisiko memperbesar pengangguran muda, ketidakcocokan keterampilan dengan kebutuhan industri, dan ketimpangan.

Pemandangan di SCBD menawarkan gambaran optimistis tentang anak muda yang terhubung dengan bisnis dan isu global. Namun kawasan bisnis itu tidak mewakili seluruh pengalaman pemuda di Indonesia. Penulis mengingatkan bahwa sebagian anak muda di luar kawasan tersebut belum memiliki akses internet stabil, pendidikan berkualitas, atau modal.

Kesenjangan akses membuat semangat persatuan perlu hadir dalam bentuk kesempatan yang lebih merata. Kolaborasi digital akan sulit dimanfaatkan jika sebagian orang tak memiliki koneksi memadai; peluang kerja juga tidak otomatis terbuka ketika keterampilan yang dibutuhkan industri belum terjangkau.

Tantangan bonus demografi karena itu bukan hanya soal jumlah penduduk muda, melainkan apakah mereka dapat ikut berpartisipasi.

Di titik itulah perbandingan dengan pemuda 1928 kembali relevan. Mereka membangun identitas bersama dari keadaan yang berbeda-beda. Generasi sekarang memiliki teknologi untuk berhubungan lebih cepat, tetapi perlu menggunakannya untuk memperluas kerja sama dan menghasilkan tindakan nyata.

Di antrean kopi SCBD, percakapan tentang bangsa dan pekerjaan menunjukkan bahwa keduanya sudah bertemu dalam kehidupan sehari-hari.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Hari Pahlawan 2026: Selasa 10 November, Kisah Surabaya dan Status Tema Kemensos