Lebih dari separuh penduduk Indonesia berasal dari generasi milenial dan Gen Z, menurut angka yang dicantumkan penulis. Struktur usia dengan banyak penduduk produktif disebut bonus demografi.
Peluang itu tidak berlangsung tanpa batas: pengelolaan yang baik dapat mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045, sementara kegagalan berisiko memperbesar pengangguran muda, ketidakcocokan keterampilan dengan kebutuhan industri, dan ketimpangan.
Pemandangan di SCBD menawarkan gambaran optimistis tentang anak muda yang terhubung dengan bisnis dan isu global. Namun kawasan bisnis itu tidak mewakili seluruh pengalaman pemuda di Indonesia. Penulis mengingatkan bahwa sebagian anak muda di luar kawasan tersebut belum memiliki akses internet stabil, pendidikan berkualitas, atau modal.
Kesenjangan akses membuat semangat persatuan perlu hadir dalam bentuk kesempatan yang lebih merata. Kolaborasi digital akan sulit dimanfaatkan jika sebagian orang tak memiliki koneksi memadai; peluang kerja juga tidak otomatis terbuka ketika keterampilan yang dibutuhkan industri belum terjangkau.
Tantangan bonus demografi karena itu bukan hanya soal jumlah penduduk muda, melainkan apakah mereka dapat ikut berpartisipasi.
Di titik itulah perbandingan dengan pemuda 1928 kembali relevan. Mereka membangun identitas bersama dari keadaan yang berbeda-beda. Generasi sekarang memiliki teknologi untuk berhubungan lebih cepat, tetapi perlu menggunakannya untuk memperluas kerja sama dan menghasilkan tindakan nyata.
Di antrean kopi SCBD, percakapan tentang bangsa dan pekerjaan menunjukkan bahwa keduanya sudah bertemu dalam kehidupan sehari-hari.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.