SLEMAN — Kartu merah Stefan Ashkovski mengubah arah pertandingan PSS Sleman kontra Borneo FC di Stadion Internasional Maguwoharjo. PSS kalah 1-2 pada pekan ketujuh Super League 2026/2027, Selasa (27/10), setelah bermain dengan 10 orang sejak menit ke-43.
Pelatih PSS, Pieter Huistra, kecewa karena timnya tumbang di kandang sendiri. Ia menilai duel berlangsung seimbang sebelum Ashkovski diusir, sementara Borneo lebih efektif memanfaatkan peluang dan keunggulan jumlah pemain.
PSS kehilangan momentum setelah kartu merah
Kedua tim sama-sama berusaha mengambil inisiatif sejak awal. Borneo mengancam melalui Juan Villa, sedangkan PSS memperoleh peluang dari sepak pojok Rico Simanjuntak. Namun, upaya tuan rumah belum berbuah gol.
Borneo memecah kebuntuan pada menit ke-38. Dandy Sonriza menyambut sepak pojok dengan tendangan langsung dan membawa tim tamu unggul 1-0. Gol itu memberi Borneo pijakan sebelum situasi PSS berubah drastis.
Ashkovski menerima kartu merah pada menit ke-43 setelah melakukan pelanggaran di area pertahanan. Laporan VIVA menyebut bek PSS itu mendapat dua kartu kuning dalam rentang dua menit, pada menit ke-41 dan 43. Setelah kehilangan satu pemain, PSS harus mengubah pendekatan dan menjaga ruang di belakang.
“Kalah di kandang sendiri adalah perasaan yang sangat buruk,” kata Huistra, seperti dikutip JPNN.com Bali. Pernyataan itu menggambarkan kekecewaan PSS, yang sebelum kartu merah masih bisa menjaga pertandingan tetap kompetitif.
Borneo memanfaatkan ruang, PSS tetap membalas
Borneo membawa keunggulan pemain ke babak kedua dan mulai mencari celah lewat transisi cepat. PSS bertahan lebih hati-hati, tetapi tetap berusaha menyerang ketika kesempatan muncul. Pergeseran itu membuat tuan rumah harus menanggung tekanan lebih lama.
Hugo Samir menggandakan keunggulan Borneo pada menit ke-75. Ia menuntaskan serangan balik dengan tembakan keras ke sudut gawang, sebagaimana dilaporkan VIVA dan Antara. JPNN.com Bali mencatat gol itu pada menit ke-75, sementara Antara menyebut menit ke-76; kedua laporan sepakat Borneo menambah gol pada babak kedua.
PSS belum menyerah. Matheus Fornazari memperkecil kedudukan pada menit ke-86 lewat sundulan, menyambut umpan lambung Tocantins. Gol itu menghidupkan kembali tekanan pada akhir laga, tetapi Borneo mampu mempertahankan keunggulan 2-1 hingga peluit akhir.
Perbedaan jumlah pemain menjadi faktor penting, tetapi bukan satu-satunya cerita. Borneo lebih tajam ketika mendapat ruang untuk menyerang balik, sementara PSS harus membagi tenaga antara menjaga pertahanan dan mencari gol. Kartu merah membuat rencana tuan rumah semakin sulit dijalankan, terutama setelah mereka tertinggal dua gol.
Dampak kekalahan bagi PSS di kandang
Kekalahan ini menahan PSS dalam laga kandang yang semula berjalan ketat dan memberi Borneo hasil penting dari lawatan ke Sleman. Bagi PSS, persoalannya bukan hanya gagal meraih poin, melainkan juga kehilangan kendali permainan setelah harus tampil dengan 10 pemain. Respons tim saat kembali bermain menjadi perhatian dalam evaluasi Huistra.
Huistra menyebut pertandingan seimbang sebelum kartu merah Ashkovski mengganggu momentum PSS. Borneo, sebaliknya, bisa menjaga keunggulan dan menghukum ruang yang terbuka pada babak kedua. PSS sempat memberi perlawanan lewat gol Fornazari, namun kebangkitan itu datang ketika waktu pertandingan semakin menipis.
Perhatian PSS kini tertuju pada laga berikutnya dan bagaimana tim mengelola situasi saat kehilangan pemain. Sementara itu, Borneo pulang dari Maguwoharjo dengan kemenangan 2-1 setelah mengubah keunggulan jumlah pemain menjadi gol penentu jarak.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.