LOMBOK — Transparansi BEI akan mencakup informasi afiliasi pemegang saham, sehingga investor bisa melihat hubungan di balik kepemilikan saham. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyampaikan rencana itu dalam workshop pasar modal Indonesia di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/10).
Langkah tersebut melanjutkan perluasan data yang dibuka kepada publik. BEI sebelumnya mencantumkan nama pemegang saham, lalu menambahkan klasifikasi investor. Berikutnya, bursa berencana memberi keterangan apakah pemegang saham terafiliasi atau tidak.
Bagaimana transparansi BEI diperluas?
Perubahan itu ditujukan untuk meningkatkan kualitas keterbukaan, bukan sekadar menambah jumlah informasi. Investor dapat memperoleh gambaran lebih rinci mengenai siapa yang memegang saham dan klasifikasi investornya, lalu mengetahui status afiliasi pemegang saham saat informasi itu dibuka.
Jeffrey menyebut bursa Indonesia sebagai salah satu yang paling transparan di dunia dari sisi keterbukaan informasi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kualitas informasi tetap menjadi tantangan.
“Kalau saya menyampaikan bahwa saat ini bursa di Indonesia adalah bursa yang paling transparan di dunia, itu kemudian diangkat dan sepotong itu kemudian menjadi kritik. Tetapi faktanya adalah demikian, dari sisi transparansi kita paling transparan. Tetapi memang tantangannya adalah kualitas dari transparansi tersebut,” ujar Jeffrey.
Dari sembilan menjadi 39 tipe investor
BEI juga memperluas klasifikasi tipe investor. Jumlah kategorinya meningkat dari sebelumnya sembilan menjadi 39 tipe investor, menurut Jeffrey. Pengelompokan yang lebih rinci memberi konteks tambahan bagi publik saat membaca data investor di pasar modal.
Bagi investor, informasi kepemilikan yang lebih lengkap dapat membantu menilai struktur pemegang saham suatu perusahaan. Status afiliasi berpotensi memberi petunjuk mengenai hubungan antarpemegang saham, sementara klasifikasi investor memperlihatkan kategori kepemilikan yang dicatat bursa.
Rincian ini relevan karena angka kepemilikan saja tidak selalu menjelaskan hubungan di antara para pemegang saham. Dengan informasi yang lebih terurai, investor memiliki dasar yang lebih lengkap untuk membaca data keterbukaan. Namun, Jeffrey menekankan bahwa tantangannya bukan hanya membuka informasi, melainkan menjaga kualitasnya.
Apa fungsi pengungkapan HSC?
BEI turut menerapkan pengungkapan high shareholding concentration (HSC), yaitu informasi mengenai saham-saham yang terindikasi memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi. Pengungkapan ini menambah jenis informasi yang dapat diperhatikan investor ketika menilai kepemilikan saham.
HSC dan rencana penambahan status afiliasi berada dalam rangkaian upaya memperkaya data publik. Satu memberi perhatian pada konsentrasi kepemilikan, sementara yang lain akan menambahkan keterangan hubungan afiliasi pemegang saham.
Jeffrey mengatakan inisiatif tersebut disusun setelah BEI berdiskusi dengan investor global. Masukan dari investor, menurut dia, menjadi bagian dari upaya bursa meningkatkan kualitas keterbukaan informasi di pasar modal Indonesia.
“Itu adalah inisiatif yang kita lakukan setelah kita berdiskusi dengan global investors. Artinya kita selalu mendengar masukan dari global investors,” kata Jeffrey.
Rencana berikutnya adalah menambahkan status afiliasi pada informasi pemegang saham. Dengan begitu, perluasan transparansi BEI akan berlanjut dari nama dan klasifikasi investor menuju keterangan hubungan kepemilikan yang lebih terperinci.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.