SINGAPURA — Impor listrik Singapura dari Vietnam direncanakan mencapai 1,3 gigawatt (GW) melalui Malaysia, setelah Energy Market Authority (EMA) memberi persetujuan bersyarat kepada Sembcorp Utilities Pte Ltd. Rencana ini termasuk berita bisnis yang ramai dibaca pada Minggu (1/11), bersama penjelasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai tekanan terhadap IHSG.
Skema tersebut belum berarti pengiriman listrik sudah berjalan. Sembcorp dan mitra konsorsiumnya masih perlu mengembangkan proyek serta menuntaskan persetujuan dan kesepakatan yang diperlukan di negara terkait.
Bagaimana skema impor listrik Singapura?
Listrik dari Vietnam akan dikirim ke Singapura melalui Malaysia. Dalam rencana yang disampaikan EMA, kapasitas impor yang disetujui secara bersyarat mencapai 1,3 GW.
Persetujuan itu diberikan kepada Sembcorp Utilities. Perusahaan tersebut bekerja sama dengan MY Energy Consortium (MYEC), yang beranggotakan Petronas, Tenaga Nasional Berhad (TNB), dan PetroVietnam Technical Services Corporation (PTSC).
Rencana pasokan menggabungkan sumber energi dari dua negara. Vietnam akan memasok listrik dari tenaga angin lepas pantai, sedangkan Malaysia menyiapkan listrik tenaga surya.
EMA menargetkan impor dapat dimulai pada 2035. Sebelum itu, konsorsium masih harus memperoleh persetujuan dari otoritas terkait di tiap negara, menyelesaikan perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) dengan pembeli, serta memastikan pendanaan proyek tersedia.
Impor listrik terkait strategi energi rendah karbon
Rencana lintas negara ini memberi Singapura jalur tambahan untuk memasok listrik rendah karbon. Bagi sektor ketenagalistrikan, proyek tersebut menghubungkan pembangkit energi terbarukan di Vietnam dan Malaysia dengan kebutuhan pasokan di Singapura.
Dampaknya bergantung pada penyelesaian tahap proyek dan realisasi pengiriman. Persetujuan bersyarat membuka jalan bagi pengembangan, tetapi belum sama dengan listrik yang sudah mengalir ke jaringan Singapura. Karena itu, tahapan izin, kontrak pembelian, dan pendanaan menjadi penentu sebelum target operasi tercapai.
EMA menyebut impor listrik rendah karbon sebagai bagian penting dari strategi Singapura untuk menekan emisi di sektor ketenagalistrikan. Otoritas itu juga telah memberikan persetujuan bersyarat dan lisensi bersyarat bagi sejumlah proyek impor listrik dari Australia, Kamboja, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.
Apa yang menekan IHSG sepanjang 2026?
Di pasar domestik, OJK menilai tekanan terhadap IHSG sepanjang 2026 tidak hanya berkaitan dengan kekhawatiran soal potensi penurunan status pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kondisi pasar keuangan global juga ikut membebani pergerakan saham.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Agus Firmansyah, mengatakan isu MSCI bukan satu-satunya faktor yang menekan pasar. Kebijakan suku bunga bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga relatif tinggi, turut menjadi tekanan.
Agus juga menyoroti ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara sekutunya. Perkembangan global itu menambah tekanan terhadap pasar keuangan, sehingga penjelasan OJK menempatkan pergerakan IHSG dalam konteks yang lebih luas daripada isu status pasar saja.
Dua berita itu menyoroti tantangan berbeda di kawasan: Singapura masih menyiapkan jalur impor listrik rendah karbon, sementara OJK mengaitkan tekanan saham Indonesia dengan kondisi pasar global dan geopolitik. Untuk proyek listrik, target yang tercantum adalah 2035.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.