Iran menyebut proposal diplomatik tujuh tahap untuk berunding dengan Amerika Serikat kini dapat dijalankan dalam dua hari. Teheran menyatakan komunikasi melalui mediator masih berlangsung, dengan Selat Hormuz ikut menjadi bagian penting dari rencana itu.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyampaikan perkembangan tersebut dalam konferensi pers mingguan pada Senin. Ia mengatakan usulan Iran tetap menjadi landasan perundingan tidak langsung dengan Washington.
Menurut Baqaei, proposal itu dibahas secara mendalam saat delegasi Iran berkunjung ke New York. Teheran kemudian menerima tanggapan Washington melalui mediator. Iran selanjutnya meringkas rancangan awal tujuh tahap menjadi rencana yang, menurut klaimnya, bisa dilaksanakan dalam dua hari.
Baqaei menyebut pemangkasan waktu itu sebagai bukti itikad baik dan pendekatan konstruktif Iran. Ia mengatakan rencana tersebut dapat membuka jalan bagi dimulainya kembali perundingan serta pemulihan keamanan di Selat Hormuz dalam waktu singkat, dengan syarat blokade laut Amerika Serikat dicabut.
Namun, pembahasan masih berlangsung dan belum menjadi kesepakatan. Iran menyampaikan posisinya, sementara komunikasi dengan AS dilakukan tidak langsung melalui perantara.
Selat Hormuz membuat perkembangan diplomatik ini punya arti lebih luas. Jalur tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan keamanan pelayaran dan pasokan energi. Ketegangan di kawasan itu dapat berdampak pada pasar energi, sehingga langkah berikutnya dalam perundingan berpotensi menjadi perhatian negara-negara yang bergantung pada stabilitas pasokan, termasuk Indonesia.
Sebelumnya, sejumlah perkembangan dalam hubungan kedua negara menunjukkan proses menuju kesepakatan belum mudah. Pada April, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan perundingan damai gagal menghasilkan kesepakatan. Ia mengatakan Iran belum menerima syarat yang diajukan Washington, yang kala itu disebut sebagai tawaran terakhir dan terbaik AS.
Pada akhir April, proposal Iran juga dilaporkan tidak memuaskan Presiden Donald Trump. Salah satu persoalan yang muncul adalah keinginan Iran menunda pembahasan program nuklir sampai perang berakhir dan sengketa jalur pelayaran di Teluk diselesaikan. Posisi itu bertentangan dengan pendekatan Washington.
Memasuki Mei, Trump menyatakan operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz dihentikan sementara untuk memberi ruang bagi penyelesaian kesepakatan. Namun, Gedung Putih saat itu belum menjelaskan kemajuan yang telah dicapai ataupun berapa lama penghentian berlaku.
Kini, Teheran kembali mengajukan rencana yang diklaim dapat dijalankan dalam dua hari. Baqaei mengatakan langkah tersebut dapat memulai kembali perundingan dan memulihkan keamanan di Selat Hormuz, dengan syarat blokade laut AS dicabut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.