Bank Indonesia secara resmi menetapkan untuk menahan suku bunga acuan atau BI Rate di angka 5,75 persen.
Keputusan yang diambil dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21-22 Juli 2026 ini menjadi penanda bahwa otoritas moneter ingin tetap bermain aman demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Sementara di belahan bumi lain, skuat Timnas Spanyol yang baru saja merayakan gelar juara Piala Dunia 2026 justru harus berhadapan dengan urusan rumit: tagihan pajak raksasa dari pemerintah Amerika Serikat.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa mempertahankan suku bunga pada level tersebut adalah langkah paling rasional saat ini. Ekonomi dunia sedang tidak menentu. Tekanan inflasi di berbagai negara masih bergerak liar dan sulit diprediksi.
Dengan mematok BI Rate di 5,75 persen, bank sentral berharap bisa meredam guncangan eksternal sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap berada di jalur yang diinginkan. Tidak ada perubahan mendadak pada instrumen moneter pendukung lainnya.
Suku bunga deposit facility tetap parkir di angka 4,75 persen, sedangkan lending facility bertahan di posisi 6,5 persen.
Urusan Pajak di Lapangan Hijau
Berbeda dengan suasana tenang di gedung BI, tensi tinggi justru terasa di koridor birokrasi Washington. Timnas Spanyol sukses membawa pulang hadiah uang tunai sebesar 50 juta dolar AS, atau jika dikonversi dengan kurs 17.900 rupiah per dolar, setara dengan 895 miliar rupiah. Uang tersebut adalah buah keringat mereka setelah mengangkat trofi paling bergengsi di dunia olahraga.
Namun, Internal Revenue Service (IRS) sebagai otoritas pajak Amerika Serikat tidak mau berkompromi. Mereka mengancam akan memotong total hadiah tersebut hingga 30 persen sebagai pajak federal. Aturan di AS memang ketat. Setiap atlet asing non-residen yang mencari nafkah atau mendapatkan pendapatan di wilayah Amerika wajib menyetorkan sebagian penghasilannya ke kas negara melalui pajak.
Aturan ini bukan tanpa penentang. Beberapa anggota Kongres AS mulai angkat suara karena merasa kebijakan ini bisa mempermalukan negara mereka sendiri. Tim Burchett dan Jonathan Jackson secara terbuka mengkritik praktik tersebut. Bagi mereka, memotong hadiah juara dunia yang diraih di tanah Amerika adalah sebuah kesalahan fatal yang berisiko merusak citra AS sebagai tuan rumah ajang internasional.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.