Kamis, 23 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Populer: BI Rate Tetap 5,75 Persen; Hadiah Piala Dunia Spanyol Kena Pajak

Populer: BI Rate Tetap 5,75 Persen; Hadiah Piala Dunia Spanyol Kena Pajak
Foto: Bisnis.com

Bank Indonesia secara resmi menetapkan untuk menahan suku bunga acuan atau BI Rate di angka 5,75 persen.

Keputusan yang diambil dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21-22 Juli 2026 ini menjadi penanda bahwa otoritas moneter ingin tetap bermain aman demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sementara di belahan bumi lain, skuat Timnas Spanyol yang baru saja merayakan gelar juara Piala Dunia 2026 justru harus berhadapan dengan urusan rumit: tagihan pajak raksasa dari pemerintah Amerika Serikat.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa mempertahankan suku bunga pada level tersebut adalah langkah paling rasional saat ini. Ekonomi dunia sedang tidak menentu. Tekanan inflasi di berbagai negara masih bergerak liar dan sulit diprediksi.

Dengan mematok BI Rate di 5,75 persen, bank sentral berharap bisa meredam guncangan eksternal sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap berada di jalur yang diinginkan. Tidak ada perubahan mendadak pada instrumen moneter pendukung lainnya.

Suku bunga deposit facility tetap parkir di angka 4,75 persen, sedangkan lending facility bertahan di posisi 6,5 persen.

Urusan Pajak di Lapangan Hijau

Berbeda dengan suasana tenang di gedung BI, tensi tinggi justru terasa di koridor birokrasi Washington. Timnas Spanyol sukses membawa pulang hadiah uang tunai sebesar 50 juta dolar AS, atau jika dikonversi dengan kurs 17.900 rupiah per dolar, setara dengan 895 miliar rupiah. Uang tersebut adalah buah keringat mereka setelah mengangkat trofi paling bergengsi di dunia olahraga.

Namun, Internal Revenue Service (IRS) sebagai otoritas pajak Amerika Serikat tidak mau berkompromi. Mereka mengancam akan memotong total hadiah tersebut hingga 30 persen sebagai pajak federal. Aturan di AS memang ketat. Setiap atlet asing non-residen yang mencari nafkah atau mendapatkan pendapatan di wilayah Amerika wajib menyetorkan sebagian penghasilannya ke kas negara melalui pajak.

Aturan ini bukan tanpa penentang. Beberapa anggota Kongres AS mulai angkat suara karena merasa kebijakan ini bisa mempermalukan negara mereka sendiri. Tim Burchett dan Jonathan Jackson secara terbuka mengkritik praktik tersebut. Bagi mereka, memotong hadiah juara dunia yang diraih di tanah Amerika adalah sebuah kesalahan fatal yang berisiko merusak citra AS sebagai tuan rumah ajang internasional.

Suara keras juga datang dari Burgess Owens, seorang anggota Kongres yang juga mantan atlet NFL. Owens paham betul bagaimana rasanya berkecimpung di dunia olahraga profesional. Ia menyebut sistem pajak yang diterapkan saat ini terlalu mencekik bagi para atlet dan pengunjung mancanegara.

Baginya, menerapkan aturan fiskal yang kaku justru menciptakan kesan bahwa Amerika Serikat tidak bersahabat bagi para tamu yang datang untuk berkompetisi secara sehat.

Perdebatan ini tidak lagi sebatas soal uang hadiah milik pemain Spanyol. Isunya telah meluas menjadi diskursus besar mengenai keadilan fiskal. Banyak pihak bertanya-tanya, apakah pantas sebuah negara tuan rumah menarik keuntungan pajak yang begitu besar dari atlet yang justru sedang menghibur jutaan penonton di stadion mereka sendiri?

Bagi dunia olahraga internasional, kasus ini menjadi peringatan keras. Efisiensi finansial dalam menyelenggarakan turnamen kelas dunia di negara dengan rezim pajak ketat kini menjadi faktor yang patut dihitung masak-masak.

Federasi olahraga internasional kemungkinan besar akan mengevaluasi kebijakan penunjukan tuan rumah di masa depan, terutama jika negara tersebut menerapkan aturan pajak yang dianggap tidak adil oleh para peserta.

Hingga saat ini, belum ada titik terang terkait apakah akan ada keringanan bagi skuat Spanyol atau IRS tetap teguh pada pendiriannya. Sementara itu, Bank Indonesia tetap fokus memantau pergerakan pasar keuangan dalam negeri, memastikan bahwa meski gejolak terjadi di berbagai belahan dunia, sistem ekonomi di tanah air tetap memiliki jangkar yang cukup kuat untuk menahan badai.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda