Kawasan bersejarah Jalan Asia Afrika, Bandung, mendadak riuh oleh semangat baru.
Indonesia Financial Group (IFG), holding BUMN yang memayungi sektor asuransi, penjaminan, dan investasi dalam ekosistem Danantara Indonesia, menggelar IFG Synergy Day 2026 sebagai titik temu bagi para pemangku kepentingan.
Bukan sekadar seremoni formal, perhelatan ini memosisikan dirinya sebagai platform strategis untuk merajut kolaborasi lintas sektor yang lebih dalam.
Tema “Ruang Resonansi: Menghidupkan Budaya untuk Melahirkan Karya” menjadi payung besar acara. Ada aroma masa lalu lewat sentuhan heritage, ditambah atmosfer edukasi dan alunan musik yang mengalir. Semuanya dirancang untuk mencairkan kekakuan korporasi. IFG ingin membangun konektivitas organik yang lebih dari sekadar urusan kontrak atau target angka tahunan.
Sinergi yang Melampaui Birokrasi
Rizal Ariansyah, Direktur SDM dan Hukum IFG, menegaskan bahwa sinergi di tubuh perusahaan bukan sekadar kerja bareng. Baginya, itu adalah proses penyatuan nilai, kompetensi, dan pengalaman yang sudah teruji. Jika hanya bekerja bersama tanpa visi yang selaras, hasilnya akan dangkal.
Rizal melihat sinergi sebagai upaya mempertemukan berbagai kekuatan agar dampaknya jauh lebih besar bagi masyarakat luas.
“Kami menghadirkan ruang ini untuk mempertemukan berbagai kekuatan dalam ekosistem. Tujuannya jelas: membangun trust, respect, hingga shared purpose. Pada akhirnya, kita ingin menciptakan shared value yang manfaatnya dirasakan publik,” tutur Rizal saat menjelaskan filosofi di balik acara tersebut.
Bagi IFG, kepercayaan adalah modal utama. Tanpa itu, kolaborasi hanyalah transaksi mati. Mereka memilih Bandung bukan tanpa alasan kuat. Kawasan Asia Afrika adalah simbol sejarah tentang dialog dan kesepakatan besar dunia. Memilih tempat ini berarti membawa semangat yang sama: bahwa keberagaman gagasan adalah kunci untuk menyelesaikan tantangan industri yang kian kompleks.
Kolaborasi sebagai Investasi Relasional
Pendekatan IFG terlihat cukup berani. Mereka tidak memandang kolaborasi dari kacamata transaksional semata. Ada pergeseran cara pandang ke arah hubungan yang lebih relasional. Fokusnya bukan lagi siapa mendapat bagian berapa, melainkan bagaimana menciptakan nilai yang berkelanjutan.
Hal ini menjadi fondasi penting bagi holding untuk tetap relevan di tengah dinamika industri keuangan yang terus berubah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.