Minggu, 9 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Polisi ajak pelajar Jayapura bijak bermedsos cegah kejahatan digital

Polisi ajak pelajar Jayapura bijak bermedsos cegah kejahatan digital
Polisi ajak pelajar Jayapura bijak bermedsos cegah kejahatan digital

Layar ponsel yang menyala di tangan remaja Jayapura kini bukan sekadar alat komunikasi. Benda itu bisa jadi pintu masuk bagi ancaman kejahatan siber yang sewaktu-waktu merusak masa depan mereka. Sadar akan kerentanan itu, Polda Papua turun langsung ke ruang kelas untuk membekali para siswa dengan literasi digital yang lebih tajam.

Kepolisian menyambangi SMKN 1 Jayapura, Jumat pagi ini, untuk menemui sekitar 180 siswa. Mereka tidak sedang melakukan operasi penegakan hukum, melainkan memberikan edukasi mendalam soal tata krama dan keamanan di dunia maya.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, hadir langsung di tengah para pelajar untuk mengingatkan bahwa ruang siber adalah pedang bermata dua yang bisa melukai penggunanya sendiri jika tidak digunakan dengan hati-hati.

Waspada Jebakan di Balik Layar

Bagi anak muda, media sosial memang menawarkan panggung kreativitas. Tapi, Cahyo mengingatkan bahwa di balik kemudahan tersebut, ada lubang jebakan. Modus penipuan terus berevolusi. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah love scamming.

Pelaku sengaja membangun kedekatan emosional lewat aplikasi perpesanan untuk menguras harta atau memeras korban. Remaja seringkali menjadi target empuk karena kurangnya pengalaman dalam membaca motif-motif manipulatif seperti ini.

Polda Papua mencatat pola kejahatan yang semakin licin. Korban seringkali tidak sadar sedang dipermainkan sampai akhirnya mengalami kerugian besar. Di samping ancaman penipuan, perundungan siber juga menjadi perhatian serius.

Cahyo menyoroti kebiasaan buruk masyarakat yang gemar membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi. Jempol yang bergerak terlalu cepat seringkali memicu hoaks yang dampaknya bisa menghancurkan reputasi seseorang.

Konsekuensi Jejak Digital

Satu pesan kunci yang ditanamkan dalam penyuluhan tersebut sangat sederhana: saring sebelum sharing. Siswa diminta untuk selalu berpikir jernih sebelum menekan tombol unggah atau mengirim pesan. Setiap kata yang diketik, setiap foto yang diunggah ke internet, akan meninggalkan jejak yang abadi. Tidak ada tombol hapus yang benar-benar bisa membersihkan rekam jejak seseorang di masa depan.

Para pelajar di SMKN 1 Jayapura didorong untuk tidak sekadar menjadi pengguna pasif. Mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan pergaulan mereka. Cahyo menantang para siswa agar berani menolak penyebaran hoaks.

Jika melihat teman melakukan perundungan di grup WhatsApp atau media sosial, mereka diminta segera mengambil sikap untuk menghentikannya. Berpikir sebelum mengetik bukan cuma soal menjaga etika, tapi cara melindungi diri sendiri dari jerat hukum yang berlaku.

Polisi mengakui bahwa upaya ini tidak akan berjalan maksimal tanpa bantuan pihak lain. Ruang kelas hanyalah salah satu pilar. Sinergi antara guru di sekolah dan orang tua di rumah menjadi kunci utama agar benteng pertahanan digital anak-anak Papua semakin kokoh.

Upaya preventif seperti ini bakal terus dilakukan ke sekolah-sekolah lain di Jayapura untuk menekan angka kejahatan siber yang semakin dekat dengan keseharian remaja.

Ke depan, Polda Papua berencana memperluas jangkauan edukasi ini ke komunitas pemuda lainnya. Mereka berharap kesadaran akan keamanan digital bisa tumbuh dari dalam diri siswa sendiri, bukan karena rasa takut akan sanksi aparat.

Langkah kecil yang dimulai dari ruang kelas di Jayapura ini menjadi awal bagi terciptanya ekosistem internet yang lebih sehat dan aman bagi generasi penerus di tanah Papua.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 9 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair