JAKARTA — IHSG melemah 29,24 persen sepanjang 2026 hingga 5 Oktober, tetapi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar saham domestik masih punya ruang untuk pulih. Indeks ditutup di level 6.118,86 pada Senin setelah menguat 1,36 persen dalam perdagangan hari itu.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan optimisme tersebut dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK September 2026 di Jakarta, Senin. Menurut dia, pemulihan tetap akan dipengaruhi dinamika global dan kinerja fundamental emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penurunan indeks sepanjang tahun masih besar. Posisi 6.118,86 itu lebih rendah 2.528,08 poin dibandingkan penutupan 30 Desember 2025, saat IHSG berada di 8.646,94. Namun, indeks sudah bergerak naik dari titik terendah tahun ini, yakni 5.342,14 pada 08 Juni 2026.
IHSG mulai bangkit dari titik terendah
Penguatan pada Senin memberi tanda bahwa tekanan tidak berlangsung satu arah. Hasan menyebut pembalikan dari titik terendah pada Juni menunjukkan adanya ruang bagi pasar untuk memulihkan diri, meski itu belum menghapus pelemahan sejak awal tahun.
“Pembalikan IHSG dari titik terendahnya di tahun ini yaitu di bulan Juni yang lalu ini sedikitnya menunjukkan adanya ruang untuk pemulihan kondisi pasar ke depan,” ujar Hasan.
Pada penutupan perdagangan Senin, indeks LQ45 juga menguat 7,77 poin atau 1,30 persen ke posisi 603,23. Frekuensi transaksi mencapai 1,64 juta kali, sementara volume perdagangan tercatat 40,24 miliar lembar saham dengan nilai Rp9,96 triliun.
Pergerakan saham individual menunjukkan pasar belum sepenuhnya seragam. Sebanyak 547 saham naik, 164 saham turun, dan 252 saham tidak berubah. Angka itu menggambarkan penguatan indeks pada hari tersebut, tetapi tidak berarti seluruh saham ikut pulih.
Sentimen global dan reformasi pasar jadi perhatian
Hasan menjelaskan, ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu sumber tekanan dari luar negeri. Gangguan distribusi komoditas dan kenaikan harga komoditas dapat mendorong inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Inflasi yang meningkat kemudian membentuk ekspektasi bahwa suku bunga acuan global akan bertahan tinggi lebih lama. Kondisi itu turut menekan rupiah dan mendorong investor, khususnya dari luar negeri, menyesuaikan strategi investasinya di pasar modal Indonesia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.