Sekian panjang perjalanan eksploitasi timah di Babel, sejak zaman kolonial, harapan terbesar saya sebenarnya adalah melihat hilirisasi timah. Seperti utopis, tapi sepanjang perusahaan bisa banting stir ke produksi hilir, akseptabilitas PT. Timah akan lebih baik.
Faktanya bahwa ratusan tahun kita hanya mengekspor timah batangan, menghenyakkan nalar kita bahwa kita selalu menjadi supplier bahan mentah untuk industri manufaktur dunia.
Bayangan saya, andai saja PT. Timah dengan modal dan ekspansi bisnisnya bisa menggeser orientasi lebih variatif ke arah hilirisasi produktif. Bukan hanya keuntungan akan melimpah, tapi dukungan masyarakat lokal juga akan menguat, apalagi keuntungan yang akan meningkat.
Tentu memang butuh pengalihan fokus, butuh re-desain perencanaan, juga modal yang tak sedikit tapi bukankah itu berarti bahwa kita sedang bicara kemandirian bangsa dan kedaulatan manufaktur.
Karenanya, dalam rapat RUPS yang mungkin akan di laksanakan beberapa waktu ke depan, saya berharap figur yang mampu melaksanakan hilirisasi, itulah yang terbaik. Yang punya visi hilirisasi. Tentu aset sumber daya lokal patut di pertimbangkan, namun kompetensi dan kapasitas visioner itu yang paling penting.
Kita mendamba pimpinan yang mampu memikirkan aspek jangka panjang untuk daerah dan bangsa. Yang tidak populis karena soal hitungan matematik keuntungan finansial saja, tapi figur yang mampu membangkitkan semangat nasionalisasi dan hilirisasi timah.
Penulis : DR Ibrahim, S.Fil, MSc
(Dosen Universitas Bangka Belitung)
Baca juga: RUPS, Direksi dan Social License To Operate PT Timah