Dirinya juga mengapresiasi penanaman sagu yang dilakukan di lahan bekas tambang. Sehingga bisa membantu mengurangi kerusakan lingkungan.
“Lingkungan Babel ini perlu perhatian, penanaman sagu di lahan basah ini bisa menjadi alternatif selain pangan juga bisa memperbaiki kondisi lingkungan. Karena sagu juga lebih mudah tumbuh di lahan basah seperti eks tambang,” katanya.
Sementara itu, Pj Gubernur Bangka Belitung Suganda Pandapotan Pasaribu mengatakan, jumlah lahan kritis di Bangka Belitung seluas 176.104 hektar. Penanaman sagu ini kata dia bisa menjadi alternatif dan akan terus digalakkan.
“Ini salah satu alternatif karena sagu bisa tumbuh dan tidak merusak lingkungan yang masuk dalam kelompok palem. Sagu ini meskipun sudah panen masih bisa dimanfaatkan jadi berkelanjutan. Kita buat food estate perkebunan sagu akan lebih bagus,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi komitmen PT Timah Tbk dalam melaksanakan reklamasi dan mengelola lahan bekas tambang. Menurutnya, hal ini perlu menjadi contoh bagi perusahaan lainnya.
“PT Timah sangat baik dalam pengelolaan lingkungan, selain reklamasi sudah melakukan lahan tutupan lahan. Tidak hanya sagu tapi juga banyak yang lain. Mudah-mudahan bisa dicontoh para pelaku tambang lainnya. Silakan menambang tapi lingkungan tetap dijaga,” pesannya.
Direktur Utama PT Timah Tbk Ahmad Dani Virsal mengatakan, Manajemen PT Timah Tbk berkomitmen untuk menyukseskan program Indonesia Net Zero 2060 dengan melaksanakan reklamasi dan upaya-upaya dekarbonisasi.
“PT Timah Tbk juga berkomitmen mengembangkan program pemberdayaan masyarakat dan lingkungan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, serta melakukan penambangan dengan prinsip-pinsip good mining practices. Salah satunya Kampoeng Reklamasi Air Jangkang ini yang merupakan salah satu Reklamasi Bentuk Lain PT Timah Tbk,” katanya.
Dani menambahkan PT Timah Tbk selama ini sudah melakukan rekalamasi di lahan kering dengan penanaman akasia dan berbagai tanaman lokal lainnya.
“Selama ini kan sudah mereklamasi dan merevegatasi lahan kering dengan tanaman akasia dan tanaman lokal lainnya dan perbaikan lahan. Penanaman sagu di lahan basah ini bisa jadi solusi pengelolaan lahan bekas tambang di lahan basah dengan tanaman rumbia atau sagu,” katanya.
Ketua Yayasan Sekak Green Nature Rudiyansah mengatakan, pihaknya akan berkolaborasi dengan PT Timah Tbk, PT BAA dan kedepannya akan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menggalakkan penanaman sagu di lahan kolong tambang.
“Hari ini penanamannya 300 pohon dan nantinya akan terus kita galakkan secara terus menerus melibatkan berbagai masyarakat. Karena sagu ini selain untuk ketahanan pangan juga berperan untuk memperbaiki air kolong tambang yang memiliki kandungan logam agar bisa dijadikan cadangan air baku masyarakat,” tandasnya.
(Sumber: Humas PT Timah, Editor: Adinda Putri Nabiilah KBO Babel)