Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
OPINI

Intoleransi Politik

Intoleransi Politik
Foto: Oleh : AHMADI SOFYAN

Oleh : AHMADI SOFYAN.                      (Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya)

 

 

Bangka Belitung, Journalarta.com – INTOLERANSI politik diawali dengan dukungan berlebihan pada seseorang dan kebencian berlebihan kepada calon lain.

SIKAP intoleransi, kurang bisa menerima perbedaan dan memaksakan kehendak kepada orang lain bahkan menganggap orang lain selalu salah dan dirinya selalu benar, adalah sikap intoleransi yang semakin nampak ketika menjelang Pilpres atau Pilkada seperti sekarang ini. Itulah yang saya sebut dengan “Intoleransi Politik” yang selalu saja ada dan mengundang perpecahan anak negeri.

Perilaku intoleransi politik diawali dengan dukungan berlebihan pada seseorang dan kebencian berlebihan kepada calon lain yang tidak didukung, dan dukungan berlebihan itu semisal setiap saat diberbagai group WhatsApp (WA) menyebarkan tentang keburukan calon yang tidak didukung.

Komentar mencaci maki, seakan-akan calon yang tidak didukung adalah orang yang harus dilenyapkan di muka bumi, sedangkan calon yang didukung adalah kehebatan abadi. Calon yang tidak didukung dianggap Iblis sedangkan calon yang didukung dianggap Imam Mahdi, Malaikat, Ratu Adil atau Sinterklas.

Inilah sikap intoleransi politik yang banyak kita temui dalam pergaulan sehari-hari baik di dunia nyata terlebih lagi dunia maya. Bahkan, sama-sama kita saksikan, betapa calon-calon yang tidak didukung begitu mudah dihujat, dicaci maki, dihina, dibully, dianggap bodoh dan sebagainya, padahal kita tahu yang menghujat dan mencaci maki jauh lebih bodoh dari calon tersebut.

Sering terjadi, kadangkala kita suka atau sreg dengan calon yang didukung, namun karena cara pendukungnya terlalu menjijikkan, akhirnya kita menjadi tidak sreg. Begitu seringkali saya dengar komentar kawan-kawan.

Perilku “intoleransi politik” inilah yang membuat negeri kita selalu “gaduh” yang berujung pada “kisruh politik”. Kita selalu saja berbicara “who” (siapa) bukan “what” (apa). Kita selalu saja bicara orang, bahkan mengkultus individukan seseorang secara berlebihan sehingga mengecilkan sikap dan perilaku toleransi dalam berbangsa dan bernegara. Perilaku seperti ini pada kelanjutannya adalah “intoleransi pada pemerintah” (apa pun yang dilakukan Pemerintah adalah salah).

Selanjutnya karena tumbuh “frustasi sosial dan politik” dalam diri orang seperti itu yang berakibat pada sikap dan perilaku “intoleransi pada negara”. munculnya kelompok intoleransi bahkan terorisme seringkali dimulai dari 3 gaya beruntun ini, yakni diawali “intoleransi politik”, lalu “intoleransi pada pemerintah” dan yang terakhir adalah “intoleransi pada negara”.

Halaman:123Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda