Pendidikan Toleransi
SALAH satu untuk mencapai tingkatan menjadi manusia adalah toleransi dalam perbedaan. Sebab hewan dan beberapa mahluk Tuhan lainnya tidak mencapai pada tingkatan ini. Misalnya binatang, dia hanya berkumpul dengan sejenisnya. Kambing dengan kambing, singa berkumpul dengan singa, pun demikian dengan makhluk halus.
Sedangkan manusia, ia bisa bertoleransi dengan siapapun bahkan hidup bersama dalam keragaman. Jika manusia mampu mencapai ini, maka ia baru pada mencapai tingkatan manusia sebelum masuk pada tingkatan-tingkatan selanjutnya.
Oleh karenanya, untuk mengokohkan kebersamaan dalam perbedaan, maka menurut saya yang pertama diperjelas adalah mamahami perbedaan. Mendidik generasi muda dengan menjelaskan tentang dunia yang tidak akan pernah sama (pasti berbeda) bagian dari keunikan, anugerah dan kekayaan dan kekuasaan Tuhan serta pendidikan dari Tuhan agar kita manusia menjadi cerdas.
Dalam Islam misalnya, ayat pertama kali turun berbunyi “Iqra’” (bacalah), yang menunjukkan betapa kecerdasan dan kedewasaan kita dalam membaca alam yang penuh perbedaan namun saling menguatkan satu sama lain sangatlah penting untuk sebuah keberlangsung hidup yang rahmatan lil alamiin.
Pendidikan toleransi sejak dini adalah bukan dengan menunjukkan keseragaman kepada anak-anak kita, justru sebaliknya adalah perbedaan, namun bisa disatukan dalam kebersamaan (harmoni dalam warna warni).
Sebagaimana alat musik yang berbeda nama dan fungsi serta bunyi, namun bisa menghasilkan nada yang sangat indah.
Sebagaimana bangunan bisa kokoh dan menarik, karena menyatunya bahan-bahan bangunan yang berbeda. Pun demikian kita hidup di dunia, bergaul, berrumah tangga, beragama, berbangsa dan bernegara. Jangan melulu mencari persamaan, tapi bagaimana menyatukan perbedaan untuk saling menguatkan sebagaimana bangunan. Tidaklah menarik dan mengundang keindahan kalau hanya mencari persamaan lantas menyatukan. Tapi yang paling cerdas dan membuahkan keindahan itu adalah merangkul perbedaan untuk merajut kebersamaan guna menyatukan kekuatan mencapai apa yang disebut dengan cita-cita kebaikan (kebermanfaatan).
Anak-anak negeri sejak dini harus dididik bertoleransi dalam berbagai perbedaan dan memastikan kepada mereka bahwa perbedaan itu akan selalu ada di muka bumi sampai kiamat. Orangtua dan Guru memiliki peran penting dalam pendidikan cerdas bertoleransi kepada anak-anak. Sebab peran pendidikan keduanya akan kuat melekat pada anak-anak kala mereka dewasa.
