Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Tokoh Nasional Melayat ke Rumah Duka Maria Oetama

Suasana rumah duka Maria Bernadeth Latifah Oetama di Jakarta
Suasana rumah duka Maria Bernadeth Latifah Oetama di Jakarta. (Ilustrasi: AI)

Kedatangan tokoh-tokoh publik ini bukan sekadar formalitas, tetapi mencerminkan penghargaan terhadap kontribusi keluarga Oetama dalam pembangunan ekosistem informasi dan literasi nasional. Kompas Gramedia sejak awal menjadi mitra penting dalam diseminasi kebijakan publik dan edukasi masyarakat.

Warisan Jakob Oetama dan Kompas Gramedia

Jakob Oetama dan istrinya Maria membangun Kompas Gramedia dari nol di tengah situasi politik yang tidak mudah. Ketika Kompas pertama kali terbit pada 28 Juni 1965, Indonesia tengah berada dalam periode yang penuh gejolak menjelang peristiwa 1965.

Di bawah kepemimpinan Jakob, Kompas bertahan dan berkembang menjadi koran dengan oplah terbesar di Indonesia. Prinsip jurnalisme independen, humanis, dan plural yang dipegang Jakob menjadi pedoman hingga kini. Kompas tidak hanya menjadi media berita, tetapi juga ruang diskursus publik dan edukasi politik masyarakat.

Setelah Jakob wafat, kepemimpinan Kompas Gramedia dipegang oleh generasi penerus keluarga Oetama. Namun, spirit pendiri tetap dijaga, termasuk komitmen terhadap kualitas konten dan tanggung jawab sosial media.

Maria Oetama, sebagai pendamping setia, berperan dalam menjaga keutuhan keluarga dan nilai-nilai yang dipegang Jakob. Kepergiannya menandai berakhirnya satu era dalam sejarah keluarga yang telah memberikan kontribusi besar bagi jurnalisme Indonesia.

Penghormatan Publik dan Relevansi Keluarga Oetama

Kedatangan tokoh-tokoh nasional ke rumah duka Maria Oetama menggambarkan posisi keluarga ini dalam ekosistem publik Indonesia. Mereka bukan hanya pebisnis media, tetapi juga bagian dari narasi besar pembangunan Indonesia, khususnya dalam kebebasan pers dan literasi.

Kompas Gramedia tetap relevan di era digital. Meski menghadapi tantangan disruption teknologi, grup ini terus bertransformasi dengan mengembangkan platform digital, e-commerce buku, dan diversifikasi konten multimedia.

Kehadiran pejabat pemerintah seperti Qodari dan teknokrat seperti Jonan juga menunjukkan bahwa relasi antara media, pemerintah, dan sektor swasta tetap penting dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat. Di tengah polarisasi politik dan disinformasi, warisan Jakob dan Maria Oetama berupa jurnalisme berkualitas menjadi semakin bernilai.

Rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya menjadi saksi bisu penghormatan terakhir kepada sosok yang turut membentuk lanskap media Indonesia. Kepergian Maria Oetama menutup satu bab sejarah, namun warisan yang ditinggalkan bersama Jakob akan terus hidup dalam setiap berita, buku, dan literasi yang dihasilkan Kompas Gramedia.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda