Jumat, 29 Mei 2026 WIB
BREAKING
📢 RUANG IKLAN
Brand Anda Layak Tampil Disini
Posisi strategis di portal berita Bangka Belitung. Audience tepat sasaran.
📞 Hubungi Marketing →
BERITA

Trump Ancam Ledakkan Oman: 15 Negara Jadi Sasaran Sejak 2017

Presiden Trump menyampaikan ancaman diplomatik dalam konferensi pers resmi di Gedung Putih
Presiden Trump menyampaikan ancaman diplomatik dalam konferensi pers resmi di Gedung Putih

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggunakan pendekatan diplomasi keras dengan melontarkan ancaman terbuka kepada Oman, negara kecil di Teluk Persia yang selama ini dikenal sebagai mediator netral di kawasan Timur Tengah. Trump menuduh Oman membantu Iran dalam konteks Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sekitar sepertiga minyak dunia yang diangkut melalui laut.

Ancaman verbal Trump kepada Oman—yang dipublikasikan melalui pernyataan resmi—menjadi yang ke-15 sejak ia memulai periode pertama kepemimpinannya pada 2017, dan dilanjutkan dalam periode kedua yang dimulai 2025. Pola ini menunjukkan preferensi Trump terhadap diplomasi transaksional dan ancaman sebagai instrumen tekanan geopolitik.

“Jangan bantu Iran atau kami akan ledakan,” demikian kutipan ancaman Trump yang beredar di media internasional, merujuk pada dugaan peran Oman dalam memfasilitasi aktivitas Iran di Selat Hormuz. Iran sendiri merespons dengan seruan solidaritas kepada Oman dan negara-negara Arab lainnya, menilai ancaman AS sebagai bentuk intimidasi yang melanggar kedaulatan negara.

🎯 SPOT IKLAN PREMIUM
Jangkau Ribuan Pembaca Setia
JournalArta dibaca harian oleh warga Babel & nasional. Iklan Anda dilihat audience aktif.
💼 Pasang Iklan →

Latar Belakang Ancaman terhadap Oman

Oman memiliki posisi geografis strategis di mulut Selat Hormuz, celah laut sempit yang memisahkan Teluk Persia dari Samudra Hindia. Sekitar 21 juta barel minyak mentah melewati selat ini setiap hari, menjadikannya salah satu chokepoint energi paling vital di dunia. Kontrol atas selat ini menjadi titik pertikaian berkepanjangan antara AS dan Iran.

Selama beberapa dekade, Oman memainkan peran sebagai mediator informal antara Washington dan Tehran. Oman memfasilitasi perundingan rahasia yang berujung pada kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada 2015, yang kemudian ditinggalkan oleh Trump pada 2018 saat periode pertamanya. Netralitas Oman kini tampaknya dianggap sebagai ancaman oleh pemerintahan Trump, yang melihat setiap bentuk komunikasi dengan Iran sebagai bentuk dukungan.

Tuduhan spesifik terhadap Oman belum dijelaskan secara rinci oleh Gedung Putih. Namun analis keamanan internasional menduga hal ini terkait dengan jalur komunikasi diplomatik Oman dengan Tehran dan posisi Muscat yang menolak bergabung dalam koalisi maritim AS di Teluk Persia.

Pola 15 Negara yang Diancam Trump

Sejak menjabat sebagai presiden pada Januari 2017, Donald Trump telah melontarkan ancaman publik—baik melalui media sosial, konferensi pers, maupun pernyataan resmi—kepada setidaknya 15 negara berbeda. Daftar ini mencakup negara-negara dengan berbagai latar belakang konflik: dari ancaman militer terhadap Korea Utara dan Iran, tarif perdagangan ekstrem terhadap China dan Meksiko, hingga pembekuan bantuan kepada negara-negara Amerika Latin dan Afrika.

Negara-negara yang pernah menjadi sasaran retorika Trump antara lain Korea Utara (ancaman “api dan amarah”), Iran (ancaman serangan militer berkali-kali), Venezuela (ancaman intervensi militer), Suriah (serangan rudal 2017 dan 2018), Turki (ancaman ekonomi terkait pendeta AS yang ditahan), Meksiko (ancaman tarif dan penutupan perbatasan), China (perang dagang dan ancaman teknologi), serta beberapa negara Eropa terkait NATO dan perdagangan.

Ancaman terhadap Oman menandai perluasan target ke negara yang secara historis bersahabat dengan AS dan tidak pernah terlibat konfrontasi langsung. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan diplomat bahwa spektrum ancaman Trump kini mencakup bahkan sekutu tradisional atau negara netral yang dianggap tidak cukup patuh terhadap agenda Washington.

Reaksi Iran dan Solidaritas Regional

Kementerian Luar Negeri Iran dengan cepat merespons ancaman Trump terhadap Oman. Dalam pernyataan resmi, Tehran menyerukan solidaritas negara-negara Arab dan Teluk untuk menghadapi “intimidasi sepihak dari kekuatan hegemonik.” Juru bicara Kemenlu Iran menyebut ancaman terhadap Oman sebagai “pelanggaran jelas terhadap prinsip kedaulatan dan piagam PBB.”

Iran juga mengingatkan bahwa Selat Hormuz adalah perairan internasional yang tunduk pada hukum laut internasional, dan tidak ada negara yang berhak memaksakan kontrol unilateral. Tehran berkali-kali mengancam akan menutup selat tersebut jika AS melakukan agresi militer, ancaman yang jika terealisasi akan memicu krisis energi global.

Oman sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi ancaman Trump. Namun sumber diplomatik dari Muscat yang dikutip media regional menyatakan keheranan atas tuduhan AS, mengingat Oman secara konsisten menjaga hubungan baik dengan Washington dan bahkan menjadi tuan rumah pangkalan logistik AS di masa lalu.

Negara-negara Teluk lainnya seperti Kuwait dan Qatar—yang juga memainkan peran mediasi—diamati secara saksama apakah mereka akan menyuarakan dukungan terhadap Oman atau memilih diam untuk menghindari konfrontasi dengan Washington.

Implikasi terhadap Stabilitas Regional dan Diplomasi Global

Ancaman berulang Trump terhadap berbagai negara menciptakan pola yang mengkhawatirkan dalam tatanan diplomasi internasional. Para analis hubungan internasional menilai pendekatan ini mengikis prediktabilitas dan kepercayaan yang menjadi fondasi sistem aliansi global. Ketika ancaman menjadi instrumen rutin, maka nilai deterrence-nya menurun, sementara risiko kesalahpahaman dan eskalasi meningkat.

Dalam konteks Timur Tengah, ancaman terhadap Oman dapat mendorong negara-negara kecil di kawasan untuk mencari perlindungan alternatif atau mengambil sikap lebih dekat dengan kekuatan regional seperti Iran atau bahkan China, yang semakin aktif di kawasan Teluk melalui inisiatif Belt and Road.

Ancaman terhadap Oman juga menggarisbawahi pergeseran strategi AS dari diplomasi multilateral menuju unilateralisme transaksional. Dalam pandangan pemerintahan Trump, setiap hubungan internasional harus menghasilkan keuntungan langsung bagi AS, dan netralitas dianggap sebagai bentuk non-kooperasi.

Namun pendekatan ini menuai kritik dari mantan diplomat AS dan pakar keamanan, yang menilai bahwa mengancam mediator netral seperti Oman justru menghilangkan jalur komunikasi berharga yang dapat mencegah konflik. Tanpa perantara tepercaya, risiko miskomunikasi antara AS dan Iran—dua negara tanpa hubungan diplomatik resmi sejak 1980—meningkat signifikan.

Dengan Oman menjadi negara ke-15 yang diancam Trump, pertanyaan terbuka adalah siapa yang akan menjadi target berikutnya, dan apakah ancaman verbal ini suatu saat akan dieksekusi menjadi tindakan nyata. Dalam lanskap geopolitik yang semakin tegang, retorika agresif tanpa strategi jangka panjang yang jelas dapat menjadi resep bagi ketidakstabilan berkelanjutan.

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
🎯 SPOT IKLAN PREMIUM
Jangkau Ribuan Pembaca Setia
JournalArta dibaca harian oleh warga Babel & nasional. Iklan Anda dilihat audience aktif.
💼 Pasang Iklan →

📝 Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditinjau sebelum tampil.