Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Trump Ancam Ledakkan Oman: 15 Negara Jadi Sasaran Sejak 2017

Presiden Trump menyampaikan ancaman diplomatik dalam konferensi pers resmi di Gedung Putih
Presiden Trump menyampaikan ancaman diplomatik dalam konferensi pers resmi di Gedung Putih. (Ilustrasi: AI)

Negara-negara Teluk lainnya seperti Kuwait dan Qatar—yang juga memainkan peran mediasi—diamati secara saksama apakah mereka akan menyuarakan dukungan terhadap Oman atau memilih diam untuk menghindari konfrontasi dengan Washington.

Implikasi terhadap Stabilitas Regional dan Diplomasi Global

Ancaman berulang Trump terhadap berbagai negara menciptakan pola yang mengkhawatirkan dalam tatanan diplomasi internasional. Para analis hubungan internasional menilai pendekatan ini mengikis prediktabilitas dan kepercayaan yang menjadi fondasi sistem aliansi global. Ketika ancaman menjadi instrumen rutin, maka nilai deterrence-nya menurun, sementara risiko kesalahpahaman dan eskalasi meningkat.

Dalam konteks Timur Tengah, ancaman terhadap Oman dapat mendorong negara-negara kecil di kawasan untuk mencari perlindungan alternatif atau mengambil sikap lebih dekat dengan kekuatan regional seperti Iran atau bahkan China, yang semakin aktif di kawasan Teluk melalui inisiatif Belt and Road.

Ancaman terhadap Oman juga menggarisbawahi pergeseran strategi AS dari diplomasi multilateral menuju unilateralisme transaksional. Dalam pandangan pemerintahan Trump, setiap hubungan internasional harus menghasilkan keuntungan langsung bagi AS, dan netralitas dianggap sebagai bentuk non-kooperasi.

Namun pendekatan ini menuai kritik dari mantan diplomat AS dan pakar keamanan, yang menilai bahwa mengancam mediator netral seperti Oman justru menghilangkan jalur komunikasi berharga yang dapat mencegah konflik. Tanpa perantara tepercaya, risiko miskomunikasi antara AS dan Iran—dua negara tanpa hubungan diplomatik resmi sejak 1980—meningkat signifikan.

Dengan Oman menjadi negara ke-15 yang diancam Trump, pertanyaan terbuka adalah siapa yang akan menjadi target berikutnya, dan apakah ancaman verbal ini suatu saat akan dieksekusi menjadi tindakan nyata. Dalam lanskap geopolitik yang semakin tegang, retorika agresif tanpa strategi jangka panjang yang jelas dapat menjadi resep bagi ketidakstabilan berkelanjutan.

Halaman:123Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda