Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Trump Mengamuk ke Oman: Jangan Bantu Iran Kuasai Selat Hormuz

Ilustrasi Selat Hormuz dengan kapal militer patroli di jalur strategis energi global
Ilustrasi Selat Hormuz dengan kapal militer patroli di jalur strategis energi global. (Ilustrasi: AI)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menebar ancaman militer di kawasan Teluk Persia, kali ini mengarah ke negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai mediator damai: Oman. Trump secara tegas memperingatkan Kesultanan Oman untuk tidak ikut-ikutan Iran dalam upaya mengendalikan Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 21 persen pasokan minyak dunia dan 25 persen perdagangan gas alam cair global.

Ancaman ini bukan sekadar retorika diplomasi biasa. Trump menyatakan akan melakukan tindakan militer jika Oman benar-benar membantu Iran dalam menguasai atau menutup selat sempit selebar 33 kilometer ini. Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras dari Teheran yang mengeluarkan seruan solidaritas kepada Oman, menambah lapisan baru dalam kompleksitas geopolitik Timur Tengah yang sudah tegang sejak AS meluncurkan bombardir ke Bandar Abbas Iran pekan lalu.

Oman sendiri berada dalam posisi dilematis. Negara Arab yang dipimpin Sultan Haitham bin Tariq ini secara geografis menguasai sebagian garis pantai Selat Hormuz, berhadapan langsung dengan Iran di sisi utara selat. Selama bertahun-tahun, Oman mempertahankan kebijakan luar negeri independen, tidak memihak blok Saudi-AS maupun Iran, dan sering menjadi jembatan dialog antara Washington dan Teheran.

Selat Hormuz: Jalur Energi Vital yang Kini Jadi Medan Perang Diplomatik

Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Setiap hari, sekitar 21 juta barel minyak melewati perairan sempit ini, menjadikannya chokepoint terpenting dalam sistem energi global. Jika selat ini ditutup atau terjadi konflik militer di kawasan ini, harga energi dunia bisa melonjak drastis—beberapa analis memperkirakan bisa mencapai 150-200 dolar AS per barel, atau setara dengan 6 dolar AS per galon bensin seperti yang pernah dikhawatirkan dalam eskalasi konflik AS-Iran sebelumnya.

Iran telah berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan militer atau ekonomi dari Barat. Ancaman ini bukan omong kosong: Iran memiliki kapabilitas militer asimetris yang kuat di perairan ini, termasuk speedboat bersenjata, rudal anti-kapal, dan ranjau laut yang bisa dioperasikan dalam hitungan jam.

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda