Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Trump Mengamuk ke Oman: Jangan Bantu Iran Kuasai Selat Hormuz

Ilustrasi Selat Hormuz dengan kapal militer patroli di jalur strategis energi global
Ilustrasi Selat Hormuz dengan kapal militer patroli di jalur strategis energi global. (Ilustrasi: AI)

Oman, yang mengendalikan sisi selatan selat, memegang kunci akses maritim ini. Jika Oman memutuskan untuk memblokir atau menghambat jalur pelayaran atas desakan Iran—atau bahkan hanya bersikap pasif saat Iran bertindak—konsekuensi ekonomi global akan sangat besar. Inilah yang membuat Trump mengeluarkan ancaman militer terbuka, sesuatu yang jarang dilakukan AS terhadap negara Arab moderat seperti Oman.

Posisi Oman yang Terjebak di Antara Dua Kubu Bermusuhan

Oman selama ini berhasil menjaga jarak aman dari konflik regional. Berbeda dengan Arab Saudi atau UAE yang terang-terangan anti-Iran, Oman mempertahankan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Teheran. Bahkan, Oman sering menjadi perantara rahasia dalam negosiasi AS-Iran, termasuk pada masa perundingan kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) sebelumnya.

Kini, netralitas itu diuji secara brutal. Ancaman Trump memaksa Muscat untuk memilih: berdiri bersama Washington dan menghadapi kemungkinan pembalasan dari Iran yang berjarak hanya puluhan kilometer di seberang selat, atau menjaga hubungan baik dengan Teheran dan menghadapi murka Amerika Serikat yang memiliki kapabilitas militer jauh lebih superior.

Iran tidak tinggal diam. Teheran mengeluarkan pernyataan yang menyerukan solidaritas kepada Oman, sebuah sinyal bahwa Iran siap mendukung—atau minimal, tidak akan menyerang—Oman jika negara itu tidak tunduk pada tekanan AS. Ini adalah strategi diplomasi Iran yang cerdas: menarik Oman lebih dekat ke orbit pengaruh Teheran sambil melemahkan tekanan AS di kawasan.

Konteks Eskalasi: Dari Bombardir Bandar Abbas hingga Ancaman Terbuka

Ancaman Trump terhadap Oman tidak muncul dalam ruang hampa. Beberapa hari sebelumnya, AS melancarkan serangan udara ke Bandar Abbas, pelabuhan militer Iran di selatan negara itu, dengan dalih “pertahanan diri” meski pada saat yang sama perundingan damai tengah berlangsung. Serangan itu memicu kemarahan Iran dan meningkatkan risiko perang terbuka.

Trump kemudian mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa AS siap “menyelesaikan pekerjaan” di Iran, sebuah frasa yang ditafsirkan banyak pengamat sebagai ancaman untuk menghancurkan infrastruktur militer Iran secara menyeluruh. Di tengah situasi ini, Selat Hormuz menjadi simbol kekuatan Iran—jika AS menyerang lebih jauh, Iran bisa menutup selat dan memukul ekonomi global sebagai senjata pembalasan.

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda