Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menebar ancaman militer di kawasan Teluk Persia, kali ini mengarah ke negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai mediator damai: Oman. Trump secara tegas memperingatkan Kesultanan Oman untuk tidak ikut-ikutan Iran dalam upaya mengendalikan Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 21 persen pasokan minyak dunia dan 25 persen perdagangan gas alam cair global.
Ancaman ini bukan sekadar retorika diplomasi biasa. Trump menyatakan akan melakukan tindakan militer jika Oman benar-benar membantu Iran dalam menguasai atau menutup selat sempit selebar 33 kilometer ini. Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras dari Teheran yang mengeluarkan seruan solidaritas kepada Oman, menambah lapisan baru dalam kompleksitas geopolitik Timur Tengah yang sudah tegang sejak AS meluncurkan bombardir ke Bandar Abbas Iran pekan lalu.
Oman sendiri berada dalam posisi dilematis. Negara Arab yang dipimpin Sultan Haitham bin Tariq ini secara geografis menguasai sebagian garis pantai Selat Hormuz, berhadapan langsung dengan Iran di sisi utara selat. Selama bertahun-tahun, Oman mempertahankan kebijakan luar negeri independen, tidak memihak blok Saudi-AS maupun Iran, dan sering menjadi jembatan dialog antara Washington dan Teheran.
Selat Hormuz: Jalur Energi Vital yang Kini Jadi Medan Perang Diplomatik
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Setiap hari, sekitar 21 juta barel minyak melewati perairan sempit ini, menjadikannya chokepoint terpenting dalam sistem energi global. Jika selat ini ditutup atau terjadi konflik militer di kawasan ini, harga energi dunia bisa melonjak drastis—beberapa analis memperkirakan bisa mencapai 150-200 dolar AS per barel, atau setara dengan 6 dolar AS per galon bensin seperti yang pernah dikhawatirkan dalam eskalasi konflik AS-Iran sebelumnya.
Iran telah berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan militer atau ekonomi dari Barat. Ancaman ini bukan omong kosong: Iran memiliki kapabilitas militer asimetris yang kuat di perairan ini, termasuk speedboat bersenjata, rudal anti-kapal, dan ranjau laut yang bisa dioperasikan dalam hitungan jam.
Oman, yang mengendalikan sisi selatan selat, memegang kunci akses maritim ini. Jika Oman memutuskan untuk memblokir atau menghambat jalur pelayaran atas desakan Iran—atau bahkan hanya bersikap pasif saat Iran bertindak—konsekuensi ekonomi global akan sangat besar. Inilah yang membuat Trump mengeluarkan ancaman militer terbuka, sesuatu yang jarang dilakukan AS terhadap negara Arab moderat seperti Oman.
Posisi Oman yang Terjebak di Antara Dua Kubu Bermusuhan
Oman selama ini berhasil menjaga jarak aman dari konflik regional. Berbeda dengan Arab Saudi atau UAE yang terang-terangan anti-Iran, Oman mempertahankan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Teheran. Bahkan, Oman sering menjadi perantara rahasia dalam negosiasi AS-Iran, termasuk pada masa perundingan kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) sebelumnya.
Kini, netralitas itu diuji secara brutal. Ancaman Trump memaksa Muscat untuk memilih: berdiri bersama Washington dan menghadapi kemungkinan pembalasan dari Iran yang berjarak hanya puluhan kilometer di seberang selat, atau menjaga hubungan baik dengan Teheran dan menghadapi murka Amerika Serikat yang memiliki kapabilitas militer jauh lebih superior.
Iran tidak tinggal diam. Teheran mengeluarkan pernyataan yang menyerukan solidaritas kepada Oman, sebuah sinyal bahwa Iran siap mendukung—atau minimal, tidak akan menyerang—Oman jika negara itu tidak tunduk pada tekanan AS. Ini adalah strategi diplomasi Iran yang cerdas: menarik Oman lebih dekat ke orbit pengaruh Teheran sambil melemahkan tekanan AS di kawasan.
Konteks Eskalasi: Dari Bombardir Bandar Abbas hingga Ancaman Terbuka
Ancaman Trump terhadap Oman tidak muncul dalam ruang hampa. Beberapa hari sebelumnya, AS melancarkan serangan udara ke Bandar Abbas, pelabuhan militer Iran di selatan negara itu, dengan dalih “pertahanan diri” meski pada saat yang sama perundingan damai tengah berlangsung. Serangan itu memicu kemarahan Iran dan meningkatkan risiko perang terbuka.
Trump kemudian mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa AS siap “menyelesaikan pekerjaan” di Iran, sebuah frasa yang ditafsirkan banyak pengamat sebagai ancaman untuk menghancurkan infrastruktur militer Iran secara menyeluruh. Di tengah situasi ini, Selat Hormuz menjadi simbol kekuatan Iran—jika AS menyerang lebih jauh, Iran bisa menutup selat dan memukul ekonomi global sebagai senjata pembalasan.
Oman, dengan posisi geografisnya yang strategis, menjadi pion penting dalam catur geopolitik ini. AS menghendaki Oman untuk menutup rapat kemungkinan Iran menggunakan perairan Oman sebagai basis operasi militer atau jalur logistik jika konflik meletus. Sebaliknya, Iran ingin memastikan Oman tidak menjadi sekutu AS yang memfasilitasi blokade atau serangan terhadap Iran.
Implikasi Global: Energi, Ekonomi, dan Keamanan Maritim
Jika konflik di Selat Hormuz benar-benar terjadi, dampaknya tidak hanya regional tetapi global. Negara-negara Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India sangat bergantung pada minyak yang melewati selat ini. Gangguan pasokan akan memicu krisis energi yang melumpuhkan industri manufaktur dan transportasi di seluruh dunia.
Indonesia, sebagai negara importir minyak, juga akan merasakan dampaknya. Harga BBM dan listrik bisa naik drastis, memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Selain itu, Indonesia yang memiliki hubungan diplomatik baik dengan Iran maupun AS, akan berada dalam posisi sulit dalam forum-forum internasional seperti G20 atau PBB.
Dari sisi keamanan maritim, ancaman Trump terhadap Oman membuka preseden berbahaya: bahwa AS bersedia menggunakan ancaman militer untuk memaksa sekutu atau negara netral mengikuti agenda Washington. Ini bisa mendorong negara-negara kecil dan menengah untuk mencari perlindungan dari kekuatan lain seperti China atau Rusia, mempercepat fragmentasi tatanan global.
Oman kini menghadapi dilema eksistensial: tetap independen dan menghadapi tekanan dari kedua pihak, atau memilih sisi dan kehilangan peran strategisnya sebagai mediator regional. Apapun pilihan Muscat, Selat Hormuz akan terus menjadi titik panas yang menentukan masa depan energi dan stabilitas global di tahun-tahun mendatang.