Sabtu, 30 Mei 2026 WIB
BREAKING
🎯 SPOT IKLAN PREMIUM
Jangkau Ribuan Pembaca Setia
JournalArta dibaca harian oleh warga Babel & nasional. Iklan Anda dilihat audience aktif.
💼 Pasang Iklan →
BERITA

Alwi Farhan Kalahkan Shi Yu Qi, Raih Kemenangan Terbesar Kariernya

Alwi Farhan merayakan kemenangan atas Shi Yu Qi di Singapura Terbuka 2026
Alwi Farhan merayakan kemenangan atas Shi Yu Qi di Singapura Terbuka 2026

Tunggal putra Indonesia Alwi Farhan mencatatkan kemenangan paling signifikan dalam kariernya pada Kamis (28/5/2026) dengan mengalahkan Shi Yu Qi, pemain nomor satu dunia asal China, di Singapore Indoor Stadium. Kemenangan 21-16, 19-21, 21-14 ini bukan sekadar angka statistik—ia menjadi momen katarsis bagi atlet berusia 21 tahun yang baru sebulan lalu mengalami keterpurukan mental di Piala Thomas.

Setelah pertandingan yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut, Alwi terlihat memeluk pelatih tunggal putra Pelatnas Indonesia, Indra Widjaja, cukup lama di luar lapangan. Ekspresi lega terpancar jelas dari wajah pemain yang kini lolos ke perempat final Singapura Terbuka 2026.

Kemenangan atas Shi—yang mengoleksi 15 gelar juara BWF World Tour dan menjadi juara dunia 2025—memiliki makna khusus karena terwujud setelah beberapa kali peluang pertemuan mereka batal. Ini juga menjadi kemenangan terbaik Alwi sejak bersaing penuh di arena BWF World Tour pada 2025.

📲 CHANNEL TELEGRAM
Follow @journalartanews di Telegram
Dapatkan notifikasi berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda.
💬 Join Channel →

Bangkit dari Keterpurukan Piala Thomas

Latar belakang kemenangan ini tidak bisa dilepaskan dari pengalaman pahit Alwi pada Piala Thomas di Horsens, Denmark, akhir April lalu. Indonesia tersisih di fase penyisihan grup untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan Alwi menjadi salah satu pemain yang tampil di bawah ekspektasi.

Dari tiga pertandingan yang dijalani, Alwi hanya menang sekali—saat melawan pemain Aljazair. Ia kalah dari Panitchapon Teeraratsakul dari Thailand dan Alex Lanier dari Perancis. Kegagalan ini meninggalkan beban psikologis yang berat.

“Momen Piala Thomas cukup berat bagi saya. Jadi, ini pengalaman untuk membuktikan bahwa saya bisa melawan rasa takut dan cemas,” ungkap Alwi usai pertandingan melawan Shi.

Konteks ini membuat kemenangannya atas pemain nomor satu dunia lebih dari sekadar prestasi teknis—ia menjadi bukti resiliensi mental atlet muda dalam menghadapi tekanan ekspektasi publik dan trauma kompetisi.

Pertandingan yang Ditunggu-Tunggu

Pertemuan dengan Shi Yu Qi sudah lama dinanti Alwi. Sepanjang 2025-2026, mereka beberapa kali seharusnya bertemu tetapi selalu batal karena berbagai sebab.

Pada April 2026, Alwi memiliki peluang berhadapan dengan Shi di perempat final Kejuaraan Asia di Ningbo, China, namun ia kalah pada babak kedua dari Kodai Naraoka—yang ironisnya akan menjadi lawannya di perempat final Singapura Terbuka ini.

Peluang pertemuan pada babak kedua Denmark Terbuka 2025 juga tidak terwujud karena Alwi kalah pada babak pertama. Sementara itu, kesempatan berhadapan di Perancis Terbuka 2025 gagal terjadi karena Shi mengundurkan diri dari turnamen.

Maka, ketika akhirnya berhadapan di Singapura, Alwi memanfaatkan momen itu dengan maksimal. Ia menunjukkan perkembangan mental yang matang, terutama dalam mengelola tekanan saat unggul maupun tertinggal.

Strategi Mental dan Pembelajaran dari Lawan

Salah satu kunci kemenangan Alwi adalah pengelolaan mental yang lebih baik dibanding pertandingan-pertandingan sebelumnya. Meski memenangkan gim pertama 21-16, ia kehilangan gim kedua 19-21 setelah Shi melakukan comeback impresif.

Pada awal gim ketiga, Alwi sempat tertinggal jauh 1-7, namun Shi kemudian menyamakan posisi pada 9-9, 11-11, dan 12-12. Di sinilah kematangan mental Alwi teruji.

“Saat unggul, saya tahu Shi Yu Qi akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar. Selain itu, belajar dari pengalaman lain, ketika saya terlalu ingin menang malah membuat blunder. Jadi, ketika lepas gim kedua, saya coba lebih tenang, balikin fokusnya karena pertandingan belum selesai,” jelas Alwi.

Dari pertandingan ini, Alwi juga mengakui belajar banyak tentang cara Shi menjaga fokus dalam kondisi apa pun. Atlet berusia 30 tahun itu mampu bangkit dari ketertinggalan dengan cepat, seperti yang ditunjukkan pada gim kedua dan awal gim ketiga.

Sebelum bertemu Shi, Alwi sudah memiliki pengalaman menghadapi tunggal putra papan atas dunia lainnya—Kunlavut Vitidsarn, Chou Tien Chen, Jonatan Christie, Li Shi Feng, Anders Antonsen, dan Viktor Axelsen—meski lebih sering kalah. Pengalaman-pengalaman itu menjadi modal penting dalam menghadapi Shi.

Perjalanan Indonesia di Singapura Terbuka 2026

Selain Alwi, Indonesia masih memiliki satu wakil lain di perempat final: pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Mereka lolos setelah mengalahkan Daniel Lundgaard/Mads Vestergaard dari Denmark dengan skor 21-13, 21-12.

Kemenangan Fajar/Fikri lebih meyakinkan dibanding babak pertama yang mereka lalui dalam tiga gim. Pada perempat final, mereka akan menghadapi lawan berat: Goh Sze Fei/Nur Izuddin dari Malaysia.

“Saya sudah sering bertemu Goh/Nur, baik saat pasangan Rian atau dengan Fikri. Mereka pemain yang berpengalaman dan tidak banyak melakukan kesalahan sendiri. Kami akan mempelajari lagi setiap permainan mereka bersama pelatih dan video analis,” ujar Fajar.

Sementara itu, pasangan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani harus mengakhiri perjalanan mereka setelah kalah dari Kang Khai Xing/Aaron Tai dari Malaysia dengan skor 19-21, 17-21.

Sabar mengakui lawan mereka sudah jauh lebih matang dan percaya diri dibanding pertemuan sebelumnya. “Mungkin karena sudah sering main di level atas. Mereka adalah salah satu pasangan yang harus diwaspadai karena dua-duanya punya pukulan yang bagus. Selain itu, kami pun banyak melakukan kesalahan sehingga momentum permainan berbalik ke mereka,” jelasnya.

Tantangan Berikutnya dan Implikasi bagi Tim Indonesia

Kemenangan Alwi atas Shi Yu Qi memberikan sinyal positif bagi perkembangan tunggal putra Indonesia menjelang Indonesia Terbuka 2026 yang akan berlangsung 2-7 Juni mendatang. Namun, tantangan tidak berhenti di sini.

Alwi akan berhadapan dengan Kodai Naraoka pada perempat final—pemain Jepang yang justru mengalahkannya di Kejuaraan Asia bulan lalu. Ini akan menjadi ujian apakah momentum kemenangan atas Shi bisa dipertahankan atau justru menjadi beban baru.

Dari perspektif tim nasional, kemenangan ini juga penting secara psikologis. Setelah kegagalan di Piala Thomas yang menimbulkan kritik publik, prestasi Alwi menunjukkan bahwa atlet-atlet muda Indonesia memiliki potensi besar jika mereka mampu mengelola tekanan mental dengan baik.

Bagi Alwi sendiri, pertandingan ini menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Dengan bimbingan pelatih dan dukungan tim, ia berhasil bangkit dari keterpurukan dan mencatatkan kemenangan yang akan dikenang sepanjang kariernya.

“Saya tidak ingin terlena karena masih ada laga lain yang tak kalah penting,” kata Alwi, menunjukkan kematangan sikap yang sebelumnya sempat diragukan publik. Pernyataan ini merefleksikan transformasi mental seorang atlet yang belajar dari pengalaman pahit dan kini siap menghadapi tantangan lebih besar.

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
✨ AVAILABLE NOW
Promo Brand Anda di Sini
Tarif terjangkau, jangkauan maksimal. Tarif khusus untuk advertiser pertama.
💬 Konsultasi Gratis →

📝 Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditinjau sebelum tampil.