Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Rupiah Melonjak ke Rp17.836, Terungkap 3 Faktor Penguat

Uang rupiah dengan layar nilai tukar menunjukkan penguatan terhadap dolar AS
Uang rupiah dengan layar nilai tukar menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. (Ilustrasi: AI)

Nilai tukar rupiah mengalami penguatan ke level Rp17.836 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (29 Mei) pagi, mencatat apresiasi 9 poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi Indonesia di tengah volatilitas pasar valuta asing global yang masih tinggi.

Pergerakan rupiah kali ini tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang Asia turut mengalami tren serupa, mengindikasikan adanya pergeseran sentimen pasar regional terhadap dolar AS yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Kondisi ini membuka peluang bagi mata uang emerging markets untuk merebut momentum penguatan dalam jangka pendek.

Tren Regional Mata Uang Asia

Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan positif sejumlah mata uang Asia lainnya dalam sesi perdagangan pagi ini. Yuan China mencatat apresiasi 0,05 persen terhadap dolar AS, sementara peso Filipina dan ringgit Malaysia masing-masing menguat lebih signifikan di angka 0,27 persen.

Namun, tidak semua mata uang Asia bergerak pada jalur yang sama. Dolar Singapura justru melemah 0,05 persen, sementara yen Jepang terkoreksi tipis 0,04 persen. Won Korea Selatan mengalami tekanan lebih berat dengan depresiasi 0,52 persen, dan dolar Hong Kong turun minimal 0,01 persen terhadap greenback.

Perbedaan arah pergerakan ini mencerminkan dinamika ekonomi domestik masing-masing negara serta respons berbeda terhadap sentimen global. Korea Selatan, misalnya, masih menghadapi ketidakpastian terkait ekspor teknologi dan ketegangan geopolitik regional yang mempengaruhi kepercayaan investor.

Pelemahan Dolar AS dan Faktor Pendorongnya

Pelemahan dolar AS menjadi katalis utama penguatan rupiah dan sejumlah mata uang regional lainnya. Menurut Lukman Leong, analis mata uang dari DOO Financial Futures, ada dua faktor kunci yang menekan greenback dalam perdagangan terkini.

Pertama, laporan kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memberikan sentimen positif terhadap stabilitas geopolitik global. Ketegangan di Timur Tengah yang mereda cenderung mengurangi permintaan safe haven terhadap dolar AS, sehingga memberikan ruang bagi mata uang lain untuk menguat.

Kedua, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dirilis lebih lemah dari perkiraan pasar turut menekan dolar. Data PCE merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Federal Reserve dalam menentukan kebijakan moneter. Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi mengindikasikan ruang terbatas bagi The Fed untuk melanjutkan pengetatan moneter agresif, sehingga mengurangi daya tarik dolar bagi investor global.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda