Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Bom PD II Mengamuk di Biak: 5 Tewas, 3 Hilang

Bom PD II Mengamuk di Biak
(Ilustrasi: AI)

Saksi mata menggambarkan ledakan yang sangat keras, disertai guncangan tanah yang terasa hingga radius ratusan meter. Rumah-rumah di sekitar lokasi rusak berat, dengan atap roboh dan dinding retak. Tim gabungan TNI, Polri, dan Basarnas langsung dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban yang hilang.

Kondisi medan yang sulit—akses terbatas, cuaca tidak menentu, dan risiko ledakan susulan dari kemungkinan UXO lain di sekitar lokasi—memperlambat proses penyelamatan. Petugas harus bekerja dengan sangat hati-hati, menggunakan alat deteksi logam dan protokol keamanan ketat untuk menghindari memicu ledakan lanjutan.

Konteks Lebih Luas: Ancaman UXO di Indonesia Timur

Insiden Biak bukanlah kasus pertama. Dalam dua dekade terakhir, setidaknya puluhan korban jiwa tercatat akibat ledakan bom sisa perang di Papua, Maluku, dan Sulawesi Utara—wilayah-wilayah yang menjadi medan pertempuran antara Jepang, Sekutu, dan kekuatan kolonial Belanda pada 1940-an.

Menurut data Kementerian Pertahanan dan berbagai LSM internasional yang bergerak di bidang mine action, diperkirakan ribuan ton UXO masih tersebar di Indonesia, dengan konsentrasi tertinggi di Papua dan Maluku. Namun, tidak ada pemetaan komprehensif yang tersedia untuk publik, dan program pembersihan berskala besar belum pernah dilakukan secara sistematis.

Pemerintah daerah sering kali kewalahan menghadapi masalah ini karena keterbatasan anggaran, teknologi, dan tenaga ahli. Organisasi internasional seperti UNDP dan berbagai NGO pernah membantu dalam beberapa proyek pembersihan terbatas, namun cakupannya jauh dari memadai dibandingkan luasnya wilayah yang terkontaminasi.

Dari perspektif kebijakan publik, ancaman UXO juga menghambat pembangunan infrastruktur, perluasan pertanian, dan investasi di wilayah timur Indonesia. Investor enggan masuk ke area yang berpotensi mengandung amunisi aktif, sementara masyarakat lokal terpaksa hidup dalam ketidakpastian dan ketakutan setiap kali menggali tanah.

Respons dan Upaya Mitigasi

Pascainsiden, Kepala Basarnas dan jajaran TNI setempat menegaskan komitmen untuk mempercepat evakuasi dan memastikan keselamatan warga di sekitar lokasi. Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dikabarkan menggelar rapat koordinasi darurat untuk mengevaluasi potensi ancaman UXO lainnya di wilayah pemukiman.

Beberapa pakar militer dan keamanan publik mendesak pemerintah pusat untuk segera meluncurkan program nasional pembersihan UXO, menggunakan teknologi deteksi modern dan melibatkan tenaga ahli internasional. Mereka juga menekankan pentingnya kampanye edukasi publik, terutama di daerah-daerah rawan, agar warga dapat mengenali tanda-tanda UXO dan melaporkannya kepada pihak berwenang tanpa mencoba menanganinya sendiri.

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda