Sejumlah NGO lokal dan internasional telah menawarkan bantuan teknis dan pendanaan untuk pilot project pembersihan UXO di Biak dan wilayah lain. Namun, realisasinya bergantung pada komitmen politik dan alokasi anggaran dari pemerintah pusat maupun daerah.
Dampak Sosial dan Implikasi Jangka Panjang
Tragedi ini bukan hanya soal angka korban, tetapi juga trauma kolektif yang dialami masyarakat Biak. Keluarga korban kini berjuang dengan kehilangan mendadak, sementara warga lain hidup dalam ketakutan bahwa tanah di bawah rumah atau kebun mereka mungkin menyimpan bom aktif.
Dampak ekonomi juga signifikan. Wilayah yang terkena insiden biasanya diisolasi untuk waktu tertentu, menghambat aktivitas ekonomi lokal. Petani tidak bisa menggarap lahan, pedagang kehilangan akses pasar, dan anak-anak tidak bisa bersekolah dengan aman.
Dari sisi pembangunan nasional, kegagalan mengatasi masalah UXO secara serius akan terus menjadi hambatan bagi percepatan pembangunan Papua dan Indonesia Timur. Infrastruktur vital seperti jalan, bandara, dan pembangkit listrik memerlukan penggalian tanah dalam skala besar—sebuah risiko yang sangat tinggi tanpa pembersihan UXO terlebih dahulu.
Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Pertahanan, Kementerian PUPR, dan Basarnas, perlu berkolaborasi dengan lembaga internasional untuk menyusun roadmap komprehensif pembersihan UXO. Ini bukan hanya tanggung jawab militer, tetapi juga isu kemanusiaan, pembangunan, dan keamanan publik yang mendesak.
Tragedi Biak menjadi pengingat keras bahwa perang yang berakhir 80 tahun lalu masih memiliki kemampuan merenggut nyawa hari ini—dan akan terus demikian, kecuali tindakan nyata segera diambil.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.