Senin, 1 Juni 2026 WIB
BREAKING
✨ AVAILABLE NOW
Promo Brand Anda di Sini
Tarif terjangkau, jangkauan maksimal. Tarif khusus untuk advertiser pertama.
💬 Konsultasi Gratis →
BERITA

Harga Solar Pertamina Turun Rp3.000-Rp3.100 Mulai 1 Juni 2026

SPBU Pertamina dengan papan harga BBM solar dan diesel terlihat jelas

PT Pertamina (Persero) mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku mulai 1 Juni 2026, dengan penurunan signifikan pada kategori solar. Untuk wilayah Jabodetabek, harga Pertamina Dex Series turun hingga Rp3.100 per liter, memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen pengguna BBM jenis ini di tengah dinamika harga energi global.

Pengumuman resmi ini tertuang dalam laman Pertamina yang dipublikasikan akhir Mei 2026. Penyesuaian harga kali ini menjadi bagian dari mekanisme formula harga dasar BBM yang diatur pemerintah, sekaligus respons terhadap pergerakan harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah dalam sebulan terakhir.

Rincian Perubahan Harga BBM Pertamina

Untuk wilayah Jabodetabek, harga Pertamina Dexlite (CN 51) turun dari Rp26.000 per liter pada Mei 2026 menjadi Rp23.000 per liter mulai 1 Juni 2026. Penurunan ini mencapai Rp3.000 per liter atau sekitar 11,5 persen.

📲 CHANNEL TELEGRAM
Follow @journalartanews di Telegram
Dapatkan notifikasi berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda.
💬 Join Channel →

Sementara itu, Pertamina Dex (CN 53) juga mengalami penurunan dari Rp27.900 per liter menjadi Rp24.800 per liter, turun Rp3.100 per liter atau sekitar 11,1 persen. Kedua produk solar ini umumnya digunakan oleh kendaraan berbahan bakar diesel seperti truk, bus, dan sebagian mobil penumpang dengan mesin diesel.

Namun, tidak semua jenis BBM nonsubsidi mengalami penurunan. Pertamax Turbo (RON 98) justru naik menjadi Rp20.750 per liter dari Rp19.900 per liter pada Mei, kenaikan Rp850 per liter. Produk ini umumnya digunakan kendaraan performa tinggi yang membutuhkan oktan lebih besar.

Di sisi lain, Pertamina menahan harga Pertamax (RON 92) di level Rp12.300 per liter dan Pertamax Green (RON 95) di level Rp12.900 per liter. Kedua harga ini telah bertahan sejak Maret 2026, tepat sebelum eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang sempat mengancam pasokan minyak global.

Kebijakan BBM Bersubsidi Tetap Stabil

Berbeda dengan BBM nonsubsidi yang harganya fluktuatif mengikuti mekanisme pasar, harga BBM jenis penugasan dan bersubsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar Subsidi masih di angka Rp6.800 per liter.

Stabilitas harga BBM bersubsidi ini menjadi instrumen pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah bawah dan sektor transportasi publik. Meski demikian, beban subsidi yang ditanggung negara tetap menjadi isu sensitif dalam konteks kebijakan fiskal, terutama saat harga minyak mentah dunia bergejolak.

Pertamina menyatakan bahwa penyesuaian harga ini dilakukan dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai Perubahan atas Kepmen Nomor 62 K/12/MEM/2020. Regulasi ini mengatur formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran BBM umum jenis bensin dan minyak solar yang disalurkan melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Konteks Formula Harga dan Dinamika Energi Global

Formula harga BBM nonsubsidi yang diterapkan Pertamina mengacu pada komponen Mean of Platts Singapore (MOPS), nilai tukar rupiah, serta biaya distribusi dan margin. Fluktuasi harga minyak mentah dunia dan pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS menjadi variabel utama yang memengaruhi penetapan harga bulanan.

Penurunan harga solar pada Juni 2026 kemungkinan besar terkait dengan tren penurunan harga minyak mentah jenis gasoil di pasar spot Asia Tenggara selama akhir Mei, ditambah stabilisasi nilai tukar rupiah. Meski demikian, kenaikan Pertamax Turbo menunjukkan adanya perbedaan dinamika permintaan dan pasokan untuk produk oktan tinggi.

Dalam konteks lebih luas, penyesuaian harga BBM berulang kali menjadi indikator sensitivitas ekonomi Indonesia terhadap gejolak pasar energi global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sempat memanas pada Maret 2026 menjadi pengingat bahwa pasokan energi tetap rentan terhadap gangguan eksternal.

Dampak bagi Konsumen dan Sektor Transportasi

Penurunan harga solar memberikan dampak langsung bagi pemilik kendaraan diesel, terutama operator logistik, transportasi barang, dan armada bus antarkota. Dengan penurunan hingga Rp3.100 per liter, biaya operasional kendaraan berbahan bakar diesel diperkirakan turun sekitar 10-11 persen untuk periode Juni 2026.

Bagi konsumen individu pengguna mobil diesel, penurunan ini cukup signifikan dalam perhitungan bulanan. Sebagai contoh, kendaraan dengan konsumsi 200 liter solar per bulan dapat menghemat sekitar Rp600.000 hingga Rp620.000 dibandingkan tarif Mei 2026.

Namun, kenaikan Pertamax Turbo berpotensi membebani pengguna kendaraan performa tinggi, meski segmen pasar ini relatif lebih kecil dibandingkan pengguna Pertalite atau Pertamax reguler. Stabilitas harga Pertamax dan Pertamax Green menjadi kabar baik bagi segmen menengah yang beralih dari Pertalite untuk efisiensi mesin.

Sementara itu, harga BBM bersubsidi yang tetap stabil menjaga beban pengeluaran masyarakat luas, khususnya pengendara motor dan mobil keluarga yang mengandalkan Pertalite. Biosolar Subsidi yang masih di level Rp6.800 per liter juga penting bagi nelayan dan sektor pertanian yang menggunakan mesin diesel.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Meski penurunan harga solar memberikan ruang bernapas bagi konsumen, volatilitas pasar energi global tetap menjadi ancaman. Pasar minyak dunia masih dibayangi oleh ketidakpastian kebijakan produksi OPEC+, potensi konflik geopolitik, serta dampak kebijakan transisi energi di negara-negara industri.

Di dalam negeri, pemerintah dan Pertamina terus dihadapkan pada dilema antara menjaga daya beli masyarakat dan mengelola beban subsidi energi. Mekanisme formula harga yang transparan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan energi nasional.

Bagi konsumen, penyesuaian harga bulanan ini menjadi pengingat untuk terus mempertimbangkan efisiensi konsumsi bahan bakar dan mempertimbangkan alternatif energi yang lebih ramah lingkungan di masa depan. Penetapan harga BBM bulan Juli 2026 akan kembali bergantung pada dinamika pasar global dan domestik pada akhir Juni mendatang.

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
📲 CHANNEL TELEGRAM
Follow @journalartanews di Telegram
Dapatkan notifikasi berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda.
💬 Join Channel →

📝 Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditinjau sebelum tampil.