Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Bom Sisa PD II Tewaskan 5 Jiwa di Biak Numfor Papua

Tim penjinak bom menyelidiki lokasi ledakan bom sisa Perang Dunia II di Biak Numfor Papua
(Ilustrasi: AI)

Ledakan bom sisa Perang Dunia II di Kabupaten Biak Numfor, Papua, menewaskan lima orang dalam insiden yang kembali menyorot ancaman laten peninggalan konflik bersejarah di wilayah timur Indonesia. Satuan Brigade Mobil (Satbrimob) Polda Papua langsung mengerahkan Tim Penjinak Bom (Jibom) ke lokasi kejadian untuk investigasi mendalam.

Kabupaten Biak Numfor, yang terletak di Papua, merupakan wilayah dengan sejarah panjang sebagai medan pertempuran Pasifik dalam Perang Dunia II. Pertempuran antara pasukan Sekutu dan Jepang di kawasan ini meninggalkan ribuan amunisi dan bom yang hingga kini masih tertanam di tanah maupun perairan sekitar.

Konteks Ancaman Bom Perang Dunia II di Papua

Papua, khususnya wilayah Biak, menjadi salah satu medan perang strategis pada 1942-1945. Pertempuran Biak antara pasukan Amerika Serikat dan Jepang merupakan salah satu konflik paling intens di Teater Pasifik. Ribuan ton amunisi dijatuhkan, dan sebagian besar tidak meledak.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Indonesia memiliki ribuan unexploded ordnance (UXO) atau amunisi yang tidak meledak, tersebar di berbagai provinsi termasuk Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Biak Numfor menjadi salah satu zona paling berisiko.

Bom-bom ini seringkali ditemukan oleh warga saat membuka lahan, menggali sumur, atau bahkan saat bermain. Kondisi bom yang sudah puluhan tahun tertanam membuat komponen kimianya tidak stabil, sehingga bisa meledak dengan sedikit getaran atau benturan.

Respons Satbrimob dan Tim Penjinak Bom

Satbrimob Polda Papua segera mengaktifkan Tim Jihandak (Penjinak Bom) untuk menuju lokasi ledakan. Tim ini bertugas mengidentifikasi sisa-sisa bom, memastikan tidak ada amunisi lain di sekitar area, dan mengamankan zona untuk mencegah korban tambahan.

Polisi juga tengah menyelidiki bagaimana ledakan ini terjadi. Kemungkinan termasuk aktivitas warga yang tidak sengaja memicu detonasi atau pergerakan tanah akibat faktor alam. Tribrata News menyebut area tersebut masih berisiko dan sedang dalam proses sterilisasi penuh.

Tim Jibom biasanya dilengkapi dengan peralatan deteksi logam, robot EOD (Explosive Ordnance Disposal), dan protokol keselamatan internasional. Namun, tantangan geografis Papua—hutan lebat, medan sulit, dan infrastruktur terbatas—membuat operasi penanganan UXO menjadi kompleks dan berbahaya.

Dampak dan Urgensi Edukasi Publik

Insiden ini bukan yang pertama. Dalam lima tahun terakhir, puluhan kasus ledakan bom sisa perang di Papua dan Maluku telah dilaporkan, menewaskan dan melukai puluhan warga. Banyak korban adalah anak-anak atau petani yang tidak mengenali bahaya objek logam yang mereka temukan.

Pemerintah daerah dan kepolisian perlu memperkuat kampanye kesadaran publik tentang pengenalan UXO. Program sosialisasi di sekolah-sekolah, desa-desa, dan komunitas lokal menjadi krusial agar warga tahu cara mengenali dan melaporkan temuan benda mencurigakan tanpa menyentuhnya.

Selain edukasi, diperlukan pemetaan sistematis zona berisiko dan program pembersihan UXO yang terkoordinasi dengan lembaga internasional seperti Norwegian People’s Aid atau HALO Trust yang berpengalaman dalam demining pascakonflik.

Tragedi Biak Numfor menjadi pengingat bahwa perang yang berakhir 80 tahun lalu masih menyisakan ancaman nyata. Tanpa intervensi serius, korban jiwa akan terus berjatuhan di tanah yang seharusnya sudah damai.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda