Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
BUDAYA

Keturunan Pakubuwono XI di Malaysia Terbongkar Lewat Bahasa Jawa

Keturunan Pakubuwono XI di Malaysia Terbongkar Lewat Bahasa Jawa
Keturunan Sultan Pakubuwono XI di Muar, Johor, Malaysia masih lestarikan budaya Jawa hingga kini. (Ilustrasi: AI)

Keraton Mbah Anang kini menjadi landmark budaya dan destinasi wisata warisan di Muar. Wisatawan lokal dan internasional datang untuk melihat bagaimana arsitektur Jawa bertahan dan dilestarikan di luar Indonesia. Bangunan ini juga menjadi pusat kegiatan budaya, termasuk pertunjukan kesenian Jawa seperti gamelan dan wayang kulit, yang diselenggarakan secara berkala oleh komunitas keturunan Jawa setempat.

Preservasi Budaya Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari

Keturunan Jawa di Kampung Sarang Buaya dan sekitarnya tidak hanya melestarikan bahasa. Mereka juga mempertahankan tradisi pertanian padi, memasak dengan bumbu dan resep Jawa, serta menggelar ritual adat seperti selamatan dan kenduri. Sawah Sarang Buaya masih diolah dengan sistem pengairan dan pola tanam yang mirip dengan sawah di pedesaan Jawa.

Banyak keluarga di Muar secara rutin mengunjungi Indonesia, terutama Solo dan Yogyakarta, untuk memperkuat ikatan dengan tanah leluhur. Anak-anak generasi muda didorong untuk belajar bahasa Jawa dan memahami sejarah migrasi keluarga mereka. Beberapa keluarga bahkan memiliki dokumentasi silsilah yang detail, menelusuri garis keturunan hingga generasi yang pertama kali tiba di Muar pada abad ke-19.

Tourism Malaysia menyadari potensi budaya ini. Dalam program Familiarisation Trip yang digelar pada 28–30 Mei, badan pariwisata Malaysia mengundang media internasional dan agen perjalanan dari Singapura untuk melihat langsung kehidupan komunitas Jawa di Kampung Sarang Buaya. Paket homestay berbasis budaya Jawa ditawarkan sebagai produk wisata warisan yang autentik dan edukatif.

Relevansi Diaspora Jawa bagi Hubungan Indonesia-Malaysia

Keberadaan komunitas keturunan Jawa di Muar memiliki implikasi lebih luas dari sekadar warisan budaya. Mereka adalah living bridge yang memperkuat hubungan people-to-people antara Indonesia dan Malaysia. Di tengah dinamika hubungan bilateral yang kadang diwarnai ketegangan atas isu perbatasan, budaya, atau tenaga kerja, komunitas diaspora Jawa mengingatkan bahwa ikatan historis dan kultural lebih kuat dari perbedaan politik.

Selamat Takim, dalam pernyataannya, menegaskan pentingnya solidaritas serumpun. “Kita loro negoro jadi kuat ning Asia Tenggara,” katanya. Pernyataan itu mengandung pesan geopolitik: Indonesia dan Malaysia yang bersatu dalam keragaman budaya dapat menjadi kekuatan regional yang signifikan. Diaspora Jawa seperti Selamat dan Johar Paimin adalah aset diplomasi budaya yang perlu dilibatkan dalam perumusan kebijakan luar negeri kedua negara.

Dari sudut pandang Indonesia, keberadaan jutaan keturunan Jawa di Malaysia, Singapura, Suriname, dan Kaledonia Baru adalah soft power yang belum dimaksimalkan. Program pertukaran budaya, beasiswa pendidikan, dan kolaborasi riset sejarah migrasi dapat memperkuat identitas diaspora sekaligus memperkuat citra Indonesia di mata dunia.

Di Kampung Sarang Buaya, Muar, Johor, budaya Jawa bukan kenangan masa lalu. Ia adalah identitas hidup yang terus bernapas, tumbuh, dan beradaptasi dalam konteks Malaysia modern. Keturunan Pakubuwono XI yang fasih berbahasa Jawa, sawah padi yang ditanam transmigran abad ke-19, dan keraton Mbah Anang adalah bukti konkret bahwa migrasi historis menciptakan warisan budaya lintas generasi yang tak lekang waktu.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda