Selamat Takim dan Kebanggaan Warisan Pakubuwono XI
Selamat Takim, tokoh politik lokal yang kini menjabat sebagai anggota dewan daerah, mewakili generasi keturunan Jawa yang tidak melupakan akarnya. Dalam sapaan kehormatan Malaysia, ia disebut YB (Yang Berhormat). Namun ketika berbicara tentang identitas budaya, Selamat fasih menggunakan bahasa Jawa. Ia menyebut Indonesia dan Malaysia sebagai “sedulur” (saudara) dalam rumpun Melayu Nusantara.
“Kita ki sedulur. Wong serumpun. Jamane biyen kita satu rumpun. Iki dino kita pisah rong negoro kabehane merupakan nusantara yang terdiri dari masyarakat melayu yang bersatu menghormati, yang sama sama podo podo bayan biar negorone pada maju. Maju Indonesia, maju Malaysia, kita loro negoro jadi kuat ning Asia Tenggara. Hidup Indonesia, hidup Malaysia,” ujarnya dalam campuran Jawa-Melayu yang mengalir natural.
Kalimat Selamat menyiratkan identitas ganda yang tidak konflik: sebagai warga negara Malaysia yang setia, namun tetap bangga dengan warisan Jawa. Leluhurnya dari keraton Surakarta bukan sekadar silsilah aristokratik, melainkan simbol kontinuitas budaya yang dipertahankan secara sadar. Selamat adalah contoh nyata bagaimana diaspora Jawa di luar negeri berperan sebagai jembatan budaya dan diplomasi rakyat antara Indonesia dan Malaysia.
Keraton Mbah Anang: Arsitektur Jawa di Tanah Melayu
Tidak jauh dari Kampung Sarang Buaya, berdiri bangunan unik bernama Keraton Mbah Anang. Didirikan oleh Johar Paimin, warga Malaysia kelahiran Muar yang memiliki silsilah dari Mojokerto, Jawa Timur. Bangunan ini adalah replika keraton Jawa lengkap dengan gapura besar khas Mojokerto, arsitektur kayu tradisional, dan ornamen detail yang mengingatkan pada kompleks keraton di Jawa Tengah atau Jawa Timur.
Nama “Mbah Anang” sendiri adalah perpaduan linguistik Jawa dan Bugis. “Lanang” dalam bahasa Jawa berarti laki-laki, disesuaikan dengan dialek Bugis menjadi “Anang”. “Mbah” adalah sapaan hormat untuk orang tua dalam budaya Jawa. Secara keseluruhan, Mbah Anang bermakna “lelaki tua yang dihormati”. Nama itu merefleksikan identitas hibrid yang dimiliki banyak keturunan Jawa di Muar: mereka bukan sekadar Jawa, bukan sekadar Melayu, namun perpaduan harmonis keduanya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.