Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Pemkab Bangka Tengah Perkuat Kemitraan Petani Sawit via ISPO

Perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Bangka Tengah yang dibidik sertifikasi ISPO
Perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Bangka Tengah yang dibidik sertifikasi ISPO. (Ilustrasi: AI)

Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah mengambil langkah strategis untuk memperkuat posisi petani kelapa sawit lokal melalui intensifikasi sosialisasi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Upaya ini bukan sekadar pemenuhan standar tata kelola perkebunan berkelanjutan, tetapi menjadi pintu masuk bagi petani untuk membangun kemitraan formal dengan industri pengolahan sawit yang menjanjikan kepastian pasar dan harga yang lebih baik.

Dengan luas areal perkebunan sawit mencapai 14.370,8 hektare yang tersebar di enam kecamatan, Bangka Tengah menempatkan komoditas ini sebagai salah satu pilar ekonomi daerah. Namun tantangan posisi tawar petani di tengah dinamika pasar global dan tuntutan produk berkelanjutan mendesak pemerintah daerah mengambil peran aktif dalam penguatan kapasitas dan legalitas usaha perkebunan rakyat.

Latar Belakang dan Konteks Sertifikasi ISPO

Sertifikasi ISPO merupakan skema penilaian kesesuaian yang memastikan usaha perkebunan kelapa sawit memenuhi prinsip dan kriteria pengelolaan berkelanjutan dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Standar ini semakin krusial seiring ketatnya regulasi pasar ekspor, terutama dari negara-negara Eropa yang menerapkan persyaratan ketat terkait deforestasi dan keberlanjutan produk turunan sawit.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bangka Tengah, Dian Akbarini, menegaskan bahwa sertifikasi ini tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan regulasi, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam membangun hubungan kemitraan antara petani dan perusahaan pengolahan.

“Pemerintah daerah terus mengupayakan petani bermitra dengan pabrik kelapa sawit agar hasil panen memiliki kepastian pasar dan harga yang lebih baik,” ujar Dian saat sosialisasi di Koba, Sabtu (30/5).

Ia menjelaskan bahwa petani sawit kini telah mendapat perlindungan melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024 yang mengatur mekanisme pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Regulasi ini memastikan harga jual TBS mengacu pada ketetapan resmi dari Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sehingga hak-hak petani lebih terlindungi dari praktik monopoli atau penetapan harga sepihak oleh pembeli.

Detail Program dan Target Sertifikasi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, total luas areal perkebunan sawit di Bangka Tengah mencapai 14.370,8 hektare yang tersebar di enam kecamatan. Luasan ini sebagian besar merupakan perkebunan rakyat yang dikelola oleh petani kecil dengan kapasitas produksi dan akses pasar yang terbatas.

Staf Ahli Bidang Perekonomian, Pembangunan, dan Keuangan Kabupaten Bangka Tengah, Tamimi, menjelaskan bahwa sertifikasi ISPO bertujuan memastikan usaha perkebunan sawit layak secara sosial, ekonomi, dan lingkungan. Proses sertifikasi ini melibatkan rangkaian penilaian terhadap aspek legalitas lahan, tata kelola lingkungan, praktik ketenagakerjaan, hingga manajemen hasil panen.

“Produksi sawit harus diimbangi dengan peremajaan tanaman dan penguatan tata kelola perkebunan melalui sosialisasi ISPO secara berkelanjutan,” kata Tamimi.

Ia menekankan pentingnya peremajaan tanaman sawit yang sudah memasuki fase produktivitas menurun, agar keberlanjutan ekonomi petani tetap terjaga. Tanaman sawit yang telah berumur di atas 25 tahun umumnya mengalami penurunan produktivitas signifikan, sehingga perlu diganti dengan bibit unggul yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan setempat.

Peran Kemitraan dalam Ekosistem Sawit Berkelanjutan

Salah satu kunci keberhasilan implementasi ISPO adalah terbentuknya kemitraan formal antara petani dan perusahaan pengolahan. Kemitraan ini tidak hanya memberikan kepastian pasar bagi petani, tetapi juga memfasilitasi transfer pengetahuan terkait good agricultural practices (GAP), akses pembiayaan, hingga pendampingan teknis budidaya.

Dian Akbarini menyebutkan bahwa pemerintah daerah telah memfasilitasi pertemuan antara kelompok tani sawit dengan beberapa perusahaan pengolahan yang beroperasi di Bangka Belitung. Kemitraan ini dirancang untuk saling menguntungkan: petani mendapat kepastian harga dan pasar, sementara industri mendapat pasokan TBS yang terstandar dan berkelanjutan.

Selain itu, sertifikasi ISPO juga meningkatkan akses petani terhadap skema pembiayaan dari lembaga keuangan. Perbankan dan lembaga pembiayaan cenderung lebih percaya memberikan kredit kepada kelompok tani yang telah tersertifikasi, karena dianggap memiliki manajemen usaha yang lebih terukur dan risiko yang lebih rendah.

Tantangan Implementasi dan Langkah ke Depan

Meski pemerintah daerah telah menggencarkan sosialisasi, implementasi sertifikasi ISPO di tingkat petani masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah minimnya pemahaman petani tentang prosedur sertifikasi, keterbatasan akses terhadap pendampingan teknis, serta biaya yang harus dikeluarkan dalam proses sertifikasi.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, DPKP Bangka Tengah berencana melakukan pendampingan intensif kepada kelompok tani melalui penyuluh pertanian lapangan. Pendampingan ini mencakup penguatan kapasitas administrasi, pelatihan tata kelola perkebunan berkelanjutan, hingga fasilitasi akses terhadap lembaga sertifikasi.

Pemerintah daerah juga tengah menjajaki skema subsidi atau insentif bagi petani yang berhasil memperoleh sertifikasi ISPO, sebagai bentuk apresiasi dan dorongan bagi petani lain untuk mengikuti jejak yang sama.

Dampak dan Implikasi bagi Ekonomi Daerah

Keberhasilan program sertifikasi ISPO di Bangka Tengah memiliki implikasi luas terhadap perekonomian daerah. Dengan meningkatnya jumlah kebun sawit bersertifikat, daya saing komoditas sawit lokal di pasar domestik maupun ekspor akan menguat. Hal ini juga membuka peluang akses ke pasar premium yang mensyaratkan produk berkelanjutan, seperti pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Selain itu, sertifikasi ISPO juga berkontribusi terhadap upaya mitigasi isu lingkungan yang kerap menjadi stigma negatif terhadap industri sawit Indonesia. Dengan menerapkan standar pengelolaan berkelanjutan, petani sawit Bangka Tengah turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.

Di tengah dinamika tuntutan pasar global yang semakin kompleks, langkah proaktif Pemkab Bangka Tengah dalam memperkuat kemitraan dan penguatan kapasitas petani melalui sertifikasi ISPO menjadi model yang patut ditiru daerah lain. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi pendampingan, komitmen seluruh pemangku kepentingan, serta partisipasi aktif petani dalam mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda