JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Di tengah krisis iklim dan kebutuhan energi yang terus melonjak, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menjadi sorotan utama dunia. Saat ini, lebih dari 440 reaktor nuklir beroperasi di 31 negara, menyumbang sekitar 9 persen dari total pasokan listrik global dan menjadi tulang punggung transisi energi rendah karbon di banyak negara maju maupun berkembang.
Bagi Indonesia, yang menargetkan Net Zero Emission pada 2060 dan membutuhkan tambahan kapasitas listrik puluhan gigawatt dalam dekade mendatang, pertanyaan besar pun muncul: apakah kita benar-benar siap mengikuti jejak negara-negara pengguna PLTN?
Peta Pengguna PLTN di Dunia: Dari Tulang Punggung Hingga Pemula Baru
Pengembangan energi nuklir untuk kebutuhan listrik telah berjalan lebih dari tujuh dekade. Berdasarkan data Asosiasi Energi Nuklir Dunia dan laporan IAEA per pertengahan 2026, terdapat sejumlah negara yang menjadikan PLTN sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem kelistrikan nasional mereka :
Amerika Serikat memimpin dunia dengan 94 reaktor yang beroperasi, menyumbang sekitar 20 persen listrik nasional. Meski banyak reaktor lama telah pensiun, AS tetap melanjutkan pembangunan unit baru dan mengembangkan teknologi reaktor modular kecil atau SMR untuk masa depan.
Prancis menjadikan PLTN sebagai tulang punggung energi nasional: sekitar 70 persen listriknya berasal dari 56 reaktor nuklir. Negara ini menjadi contoh keberhasilan diversifikasi energi dan menjaga harga listrik relatif stabil meski terjadi gejolak harga energi global.
Tiongkok kini menjadi penggerak utama pertumbuhan nuklir dunia. Memiliki 58 reaktor beroperasi dan sekitar 39 unit sedang dibangun, Tiongkok berambisi menempatkan energi nuklir sebagai kunci pengurangan emisi sekaligus memenuhi kebutuhan industrialisasi yang masif.
Rusia memiliki 36 reaktor beroperasi, sekaligus menjadi eksportir teknologi nuklir terbesar. Melalui Rosatom, Rusia membantu membangun PLTN di berbagai negara mulai dari Turki, Mesir, hingga Bangladesh yang baru saja memulai pengisian bahan bakar reaktor pertamanya pada Juli 2026.
Korea Selatan dengan 25 reaktor yang beroperasi mampu mengekspor teknologi nuklir ke luar negeri, contohnya proyek PLTN Barakah di Uni Emirat Arab. Sementara itu, Jepang yang sempat menutup sebagian besar reaktor pasca kecelakaan Fukushima kini mulai mengaktifkan kembali unit yang telah memenuhi standar keselamatan terbaru.
Tak hanya negara maju, negara berkembang pun mulai melirik PLTN. Bangladesh baru saja bergabung sebagai negara ke-33 pengguna energi nuklir komersial, dengan proyek Rooppur yang didukung Rusia. Sementara itu, India, Belarus, dan Uni Emirat Arab juga telah memiliki fasilitas operasional, dan sekitar 35 negara lain sedang mempertimbangkan atau merencanakan program serupa .

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.