Minggu, 19 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Gunung Marapi Sumbar Erupsi, Kolom Abu 2.000 Meter ke Timur Laut

Erupsi Gunung Marapi Sumatera Barat dengan kolom abu vulkanik tinggi ke arah timur laut
Erupsi Gunung Marapi Sumatera Barat dengan kolom abu vulkanik tinggi ke arah timur laut. (Ilustrasi: AI)

Salah satu ancaman utama pasca-erupsi adalah potensi lahar dingin. Material vulkanik yang terakumulasi di lereng gunung dapat terbawa aliran air hujan membentuk lahar yang mengalir cepat melalui sungai-sungai seperti Batang Agam, Batang Sangir, dan Batang Sinamar. Lahar dingin ini mampu merusak infrastruktur, mengubur lahan pertanian, dan membahayakan permukiman di daerah aliran sungai.

Imbauan dan Kesiapsiagaan Masyarakat

Otoritas pemantau gunung api meminta masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Marapi untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat musim hujan. Lahar dingin dapat terjadi tanpa peringatan langsung dan bergerak dengan kecepatan tinggi, memberikan waktu evakuasi yang sangat terbatas.

Warga diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan terlarang dalam radius tertentu dari puncak, serta menghindari daerah-daerah rawan banjir lahar. Jalur evakuasi dan posko siaga telah disiapkan di sejumlah titik strategis sebagai antisipasi jika terjadi eskalasi aktivitas vulkanik.

Pemerintah daerah Sumatera Barat bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Marapi secara 24 jam. Sistem peringatan dini berbasis seismik dan visual dioperasikan untuk mendeteksi tanda-tanda erupsi lebih lanjut sedini mungkin.

Dampak dan Implikasi Jangka Pendek

Erupsi Sabtu pagi ini belum dilaporkan menyebabkan korban jiwa atau kerusakan material signifikan. Namun, sebaran abu vulkanik ke arah timur laut berpotensi memengaruhi kualitas udara di wilayah tersebut, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Masyarakat di jalur sebaran abu diminta menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Sektor pertanian di lereng Gunung Marapi, yang didominasi tanaman sayuran dan hortikultura, juga berisiko terdampak jika hujan abu berlanjut. Meski abu vulkanik dalam jumlah kecil dapat menyuburkan tanah dalam jangka panjang, endapan abu tebal dapat merusak tanaman dan mengganggu proses fotosintesis.

Otoritas setempat terus mengimbau masyarakat untuk mengikuti perkembangan informasi resmi dari PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi antar-instansi menjadi kunci dalam meminimalkan risiko dari aktivitas vulkanik yang masih berlanjut di Gunung Marapi.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda